Bumbu Rahasia 01
“Huakk..!”
Muntah, mungkin cara yang terburuk memulai sebuah hari baru. Namun itulah yang kulakukan ketika itu, saat matahari belum juga muncul. Gadis pirang di belakangku menekan-nekan leherku.
“Pelan Ray, pelan..!” bisiknya berulang-ulang.
Aku terengah, mataku berair. Saat itu aku merindukan belaian gadis ‘itu’. Namun kutekan perasaanku kuat-kuat. Kuraih kepala shower dan menyalakannya. Air dingin segera membasuh kepalaku.
“Kamu takut..?” gadis di belakangku berkata lirih, sementara jemarinya masih juga memijat tengkukku.
“I’m fine,” bisikku menundukkan kepala.
Suaraku terdengar serak, mirip suara dari dasar sumur. Titik-titik air jatuh ke dalam bath tub, bersama dengan air liurku. Bagian belakang kepala dan leherku benar-benar sakit sekarang. Aku perlu ‘pain killer’ (obat penghilang rasa salit).
“To.. long… pil..,” ucapku seraya melirik lemari kaca di atas basin.
Gadis pirang itu melepaskan jemarinya, lalu buru-buru membuka lemari kaca.
“Yang mana..?” ia bertanya bingung.
“Me.. rah.. di.. bo.. botol..,” ucapku terbata.
Pandanganku mulai berputar. Tidak lama kemudian kurasakan kepalaku membentur pinggiran bath tub.
*****
Siangnya aku terbangun tiba-tiba saat alarm berbunyi. Rasa pening dan sakit di leherku sudah lenyap, entah bagaimana. Kurasa Jessica sempat memasukkan obat itu ke leherku sebelum otot-ototnya berhenti berkontraksi. Aku tersenyum saat menyadari gadis itu terlelap di atas dadaku. Rambut pirangnya tergerai menutupi wajahnya. Napasnya menghembus lembut. Aku meraih rambutnya dan mengelus. Rambutnya indah sekali, pikirku dalam hati. Gadis itu terbangun saat aku menyentuh pipinya. Ia mengangkat kepala dan menatapku dengan senyum di bibirnya.
“Ja..? Udah bangun..? Je’s takut..,” ia berkata, lalu air mata menitik keluar membasahi pipinya yang putih kemerahan.
Aku tersenyum, lalu menggelengkan kepalaku. “I
Berlangganan Cerita
Peringatan Admin