DIPAKSA JADI WARIA


+(reset)-


Namaku Susan, aku waria paling laris di Taman Lawang. Tidak ada orang yang tidak berpaling saat lewat di depanku, tidak peduli orang itu penggemar waria atau cowok tulen, mereka semua pasti kagum dan terpesona dengan kecantikanku. Mereka terpana karena sosok yang mereka lihat memang sosok seorang cewek cantik, langsing, imut berkulit putih (aku seorang keturunan Cina) dengan rambut panjang hitam sebahu, dan makeup yang sexy. Kalau aku sudah mengenakan pakaian malam yang sexy lengkap dengan high heels dan stocking hitam, tidak mungkin ada seorang pria yang bisa tahan tidak tergoda dengan kecantikan dan kesexy-an diriku. Apalagi bila aku sudah mulai menggoda mereka, tidak mungkin ada yang tahan.

Aku sangat ahli dalam mengulum kemaluan pelangganku, aku akan mulai dengan menciumi kepala penis mereka sambil sesekali menjilatinya. Aku kemudian mulai menciumi dan menjilati batang kemaluan pelangganku sambil jari kukuku yang lentik memijat kantung zakar mereka. Saat aku mulai memasukkan penis mereka ke dalam mulutku aku melakukannya dengan perlahan karena aku tahu bahwa sensasinya bagi para pelangganku sangat luar biasa. Setelah itu aku mulai mengulum kemaluan mereka seperti anak kecil menjilati es-krim atau lolipop. Saat ini biasanya para pelangganku sudah sangat terangsang dan hanya perlu beberpa hisapan sensual untuk akhirnya membuat pelangganku orgasme. Aku akan menelan sperma mereka karena aku tahu ini akan menyebabkan pelangganku merasa nikmat sekali dan dijamin akan kembali lagi untuk mencariku. Aku memang sangat ahli dalam hal itu tapi aku sendiri tidak menyukainya. Hal ini dikarenakan aku sendiri sebenarnya bukan waria tulen, aku sendiri belum lama jadi waria, baru 1 tahun ini. Bahkan sebelum itu aku sebenarnya seorang cowok tulen yang senang dengan wanita. Tapi semua itu berubah setahun yang lalu.

Waktu itu aku sedang mengunjungi daerah Taman Lawang sendiran. Sebenarnya aku ke sana karena aku diberitahu ada satu warung nasi goreng yang enak sekali dan murah. Aku memutuskan untuk mencoba makan di sana dan memang warung nasi goreng di warung Pak Mamat sangat enak. Aku memang sering mencoba makanan terutama yang enak dan murah karena sebagai mahasiswa aku tidak punya banyak uang, jadi aku berusaha sedapat mungkin untuk berhemat dengan biaya hidup sehari-hari.

Setelah selesai menikmati nasi goreng di sana aku menyalakan sebatang rokok sambil duduk di warung tersebut. Saat menikmati rokok itu tiba-tiba ada 2 orang waria masuk ke warung tersebut. Dari pembicaraan mereka aku tahu yang satu bernama Jenny dan yang lain bernama Asih. Jenny seorang waria muda yang cukup cantik dan langsing sementara Asih lebih terlihat agak maskulin.

Saat memasuki warung mereka berdua melihat ke arahku dan sambil memesan makanan mereka mengajak berkenalan. Aku sendiri agak “jijik” melihat mereka dan sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal yang berkain dengan waria dan homosexual ini. Asih yang lebih agresif mengajakku berkenalan dan sambil agak tidak mempedulikan mereka aku menanggapi sedapatnya.

Asih semakin lama semakin agresif dan mengajak aku berkencan, saat itu sambil melengos dengan sebal aku sedikit menghardik mereka:

“Heh banci! Gue tu kagak seneng sama yang beginian, tahu nggak? Mendingan elu minggir aja deh daripada gue muntah di sini.”

Asih dan Jenny sedikit terkejut mendengar hardikanku dan terlihat mereka marah saat aku lebih lanjut menghina mereka:

“Nungging aja lu di pinggir jalan!”

Mereka diam mendengar hardikanku dan menyelesaikan makan malam mereka. Setelah selesai mereka keluar dari warung sambil berbisik sendiri di atara mereka. Tidak lama setelah itu aku keluar menuju ke motorku dan mulai mengendarai motor meninggalkan warung.

Belum lama berjalan aku merasa bahwa mesin motorku terbatuk-batuk dan tiba-tiba mati. Motorku berhenti di pinggir jalan yang gelap.

“Bener-bener banci bawa sial,” umpatku sambil berusaha melihat masalah pada motorku.

Saat aku sedang mengamati mesin motorku, tiba-tiba dari tepi jalan ada 2 pasang tangan yang membekap aku dan menelikung aku. Aku berusaha memberontak tetapi ternyata 2 pasang tangan ini kuat membekap aku. Aku merasakan pukulan di pundakku yang menyebabkan aku jatuh. 2 pasang tangan tersebut menarik aku dan tiba-tiba aku merasakan sebatang pisau di depan leherku. Aku panik dan berpikir bahwa ini adalah penodong yang ingin mengambil hartaku. Aku memohon belas kasihan pada mereka:

“Ampun bang, sss….saya nggak punya …. uang.”

Aku kemudian mendengar suara kasar memerintahku, “Diem lu! Jangan berani-berani teriak atau gue tusuk lu.”

Orang yang satu lagi menimpali, “Jangan teriak dan melawan kalau nggak mau celaka!”

Kemudian mereka berdua agak menyeret aku masuk lebih jauh ke semak-semak. Mati aku! Pikirku, jangan-jangan mereka mau merampok dan membunuhku. Aku mulai agak ketakutan dan memohon, baru aku hendak membuka mulutku tiba-tiba aku rasakan tamparan di pipiku

“Diem! Jangan bersuara! Kalau nggak mau kenapa-kenapa.”

Aku pasrah dan takut saat menyadari mereka ternyata membawa aku ke satu bilik kecil yang dipakai untuk berkencan. Di sana sambil terus menodongkan pisau, mereka mulai menggeledah aku dan menemukan hp serta dompetku. Mereka mengecheck hp-ku dan menyimpannya, lalu meneliti dompetku dan mengambil KTP-ku.

Tiba-tiba aku mendengar suara feminin yang masih agak kelaki-lakian dan 2 orang waria menghampiri kami bertiga.

“Iya Bang Rocky ini nih tadi yang menghina kita.” Ternyata 2 orang waria yang tadi makan bersama denganku tiba menghampiri kami.

Aku baru sadar 2 orang penodong ini ternyata teman dari 2 orang waria yang tadi aku hina. Aku langsung memohon kepada kedua waria ini, “Mbak maaf, tadi saya cuma bercanda koq. Maaf sekali Mbak kalau tersinggung.”

“Wah udah terlambat kalau mau minta maaf, kita udah tersinggung sekarang.” Kata Jenny. Ia kemudian berpaling kepada Asih dan bertanya, “Enaknya diapain ya Sih?”

“Ah aku sih nggak mau apa-apain Jen, cuma supaya dia nggak benci sama kita aja,” Asih menimpali Jenny sambil senyum-senyum. Asih kemudian berbisik pada Jenny dan Jenny cekikikan kemudian pergi meninggalkan kami semua.

Tidak lama kemudian Jenny kembali sambil membawa satu bungkusan besar. Ia kemudian menjelaskan padaku bahwa 2 orang penodong itu – yang satu bernama Rocky dan yang satu lagi bernama Iwan – adalah pacar sekaligus germo mereka berdua. Mereka punya beberapa waria yang bekerja pada mereka dan menjaga para waria itu kalau ada pelanggan yang kelewatan. Jenny membisikkan sesuatu pada Rocky yang kemudian menghampiriku lagi.

“Jadi elu benci sama pacar gue?” Rocky bertanya dengan nada mengancam. Tiba-tiba Rocky menamparku,”jangan panggil banci tapi waria – wanita pria. Hormat dikit sama mereka, mereka manusia juga.”

Aku memohon belas kasihan kepada Rocky, “Iii…iya bang, mm..maaf. Sssaya nggak bermaksud…menghina.”

Jenny memperhatikan KTP-ku dan menimpali, “Andi, wah bagus juga namanya. Di, kalau Bang Rocky udah marah sama kamu bahaya lho, kamu bisa dipotong-potong sama dia.” Jenny cekikikan sambil berkata tapi justru membuatku tambah takut.

“Bang Rocky, am….ampun Bang, ssaaya nggak bermaksud menghina.” Aku memohon tanpa sadar mulai menitikkan air mata karena takut aku mungkin akan dibunuh saat itu juga.

“Tahu nggak elu gara-gara ulah elu mereka jadi kehilangan waktu untuk kerja. Sekarang elu ganti uang yang seharusnya mereka dapat.” Iwan yang sejak tadi berdiam mulai bersuara.

“Tapi Bang saya bener-bener nggak punya uang.” Aku memohon pada mereka berdua.

“Udah Wan, habisin aja sekarang, udah abis waktu nih.” Rocky mengancam lagi

Aku makin ketakutan, “Ampun bang….nanti saya ganti kalau udah ada uang.”

“Terus elu mau pergi gitu aja? Emangnya elu pikir gue goblok? Sekarang juga elu harus ganti uang. Mereka biasanya masing-masing setor 5 juta semalam. Kalau elu mau kasih 10 juta sekarang, elu gue lepasin kalau nggak gue potong-potong elu.” Rocky kembali mengancam.

10 juta? 1 juta saja aku tidak punya apalagi 10 juta. Aku semakin panik. Pada saat itu Asih tiba-tiba berkata, “Gini aja, elu kerja untuk kita sampai kekumpul 10 juta nanti kalau kekumpul elu boleh pergi.”

Tanpa berpikir panjang aku menyetujuinya. Paling-paling aku harus jadi pembantu rumah atau melakukan kerja kasar sekitar sebulan di rumah mereka untuk melunasi 10 juta. “Bbbaik….baik, saya setuju.”

“Ok, jangan macem-macem KTP dan HP-elu ada di gue, Jen, siapin dia deh.” Rocky berkata pada Jenny yang dengan sangat girang mulai menuntunku.

Disiapin? Disiapin untuk apa aku agak bingung. Jenny dan Asih mulai menuntunku ke dalam bilik. Di dalam bilik mereka minta aku untuk melepas baju dan celanaku, aku memberontak karena malu tapi Jenny dan Asih kembali mengancam dengan memanggil Rocky dan Iwan yang sedang menunggu di luar bilik.

Rocky kembali menampar pipiku dan berkata, “Jangan ngelawan! Nurut sama mereka!”

Aku terpaksa mengangguk dan menurut, ternyata Iwan tidak keluar dari bilik dan menunggu di dalam bilik rupanya menjaga supaya aku menurut Jenny dan Asih.

Jenny mulai melepas bajuku tidak dengan melepas secara biasa tapi memotong baju dan celanaku dengan gunting. Gila! Aku tidak memiliki baju dan celana lagi sekarang. Tidak berhenti sampai disitu mereka juga memotong celana dalamku sampai aku bener-bener telanjang bulat. Aku malu sekali tapi tidak bisa bertindak apa-apa. Jenny mulai mencukur habis bulu-bulu halus di badanku termasuk rambut kemaluan, ketiak dan kumis tipis serta jenggot tipisku, setelah itu Jenny mulai menaburkan bedak bayi di sekujur tubuhku.

Asih kemudian mengeluarkan BH, korset dan celana dalam wanita dari bungkusan yang dibawa Jenny, saat itu aku baru sadar apa yang mereka mau untuk aku kerjakan. Mereka mau aku jadi waria menggantikan mereka! Aku mulai gelisah karena aku tidak ingin jadi waria tapi melihat Iwan menunggu di dalam bilik aku kembali takut dan akhirnya hanya bisa pasrah.

Asih mulai memakaikan BH, korset dan celana dalam wanita yang sangat sexy tersebut kepadaku. Selanjutnya Jenny menyuruh aku mengenakan stocking hitam yang dibawanya. Aku hanya bisa pasrah dan mengenakannya. Saat aku mulai mengenakan stocking dan baju dalam yang sexy tersebut tanpa terasa kemaluanku mulai menegang.

“Hi..hi..hi..ternyata kamu seneng juga khan pakai perlengkapan wanita,” Asih mulai menggodaku sementara aku hanya bisa menunduk malu. Setelah mengenakan itu semua Jenny mulai memakaikanku gaun pendek berwarna merah menyala. Karena badanku sendiri tidak terlalu besar, gaun pendek berlengan panjang ini terasa pas di badanku. Aku melihat Iwan mulai membetulkan celananya, rupanya dia juga terangsang melihatku.

Selanjutnya Asih menyuruhku duduk dan mulai mencukur habis alisku. Alisku dicabuti dan dicukur habis sehingga wajahku tidak lagi terkesan maskulin. Kemudian ia mulai membentuk alis baru dengan pensil alis sehingga bentuk alisku jadi tipis dan feminin. Asih kemudian mulai membubuhkan foundation, bedak dan eyeshadow di wajahku. Setelah itu dia juga membubuhkan pemerah pipi dan lipstik merah menyala di bibirku. Aku tidak tahu seperti apa wajahku nantinya karena tidak aka cermin untuk aku melihat diriku tapi dari reaksi Iwan yang terus membetulkan celananya aku rasa wajahku tidak terlalu jelek setelah dirias.

Terakhir Jenny memakaikan wig berwarna coklat di kepalaku dan memakaikannya dengan jepit rambut sehingga wig ini tidak bergerak di tempatnya.

“Udah selesai…..gimana Wan?” tanya Jenny pada Iwan.

“Cantik banget Jen.” Iwan menimpali kemudian menambahkan, “kalian berdua keluar dulu. Aku mau ngechek sesuatu.”

Kedua waria itu keluar dari bilik sambil cekikikan seolah-olah tahu apa yang Iwan ingin check pada diriku.

Setelah keduanya keluar Iwan mendekatiku dan berkata, “Elu memang udah keliatan kayak cewek cantik tapi percuma kalau nggak bisa kerja seperti cewek cantik.” Iwan berkata sambil mulai membuka resleting celananya. Aku panik karena aku mengerti maksud Iwan.

“J..jangan Bang….ss..saya bb…bukan…..” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku kembali tamparan keras menghantam wajahku.

“Sekarang elu udah jadi waria tapi percuma kalau nggak bisa beraksi seperti waria.” Iwan berkata sambil mengangsurkan kemaluannya kepadaku. “Isep!”

Aku mulai memegang kemaluannya dan mendekatkannya ke wajahku. Penis Iwan sangat besar dan berbau anyir. Aku hampir muntah menciumnya tapi aku paksakan diriku mulai menciuminya. Aku mulai menjilati kemaluannya, mulai dari kepala penisnya terus ke pangkal penisnya dan kembali lagi ke kepala penisnya. Tangan Iwan mulai meraba ke dalam gaunku dan mulai meraba-raba putingku. Tidak terasa aku mengalami rasa aneh dan nikmat saat Iwan mulai meraba putingku yang menyebabkan aku mulai menjilati penisnya lebih cepat lagi. Aku kemudian mulai menciumi sambil menjilati kepala penisnya dan sesekali memasukkan sebagian ke dalam mulutku. Iwan mulai memejamkan matanya dan mendesah sambil tangannya terus meraba-raba putingku.

Rabaannya yang sangat nikmat itu membuat aku seperti lupa diri dan mulai memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam mulutku. Aku mulai menghisap perlahan dan tanganku mulai bergerak maju mundur sambil mencengkram batang penisnya, tak terasa aku juga memejamkan mata menikmati rabaannya di putingku. Kedua jarinya mulai meraba dan sedikit mencubit putingku yang menyebabkan aku semakin terangsang, aku tidak mengira bahwa rabaan di putting dapat membuatku begitu terangsang.

Aku makin mempercepat hisapan dan kulumanku dan aku semakin merasakan penisnya makin menegang di dalam mulutku. Iwan menggerakkan pinggulnya maju mundur dan beberapa kali ujung penisnya mengenai pangkal tenggorokanku. Tiap mengenai pangkal tenggorokanku yang halus dan licin Iwan mendesah. Aku sendiri mulai sedikit mendesah merasakan rabaannya pada putingku. Tidak lama kemudian aku merasakan badannya mulai mengejang dan aku rasakan semburan hangat masuk ke dalam mulutku. Aku berusaha menarik kepalaku dari kemaluannya tapi ternyata tangannya sudah berpindah ke kepalalu dan menahan kepalaku sehingga aku mau tidak mau harus menelan spermanya.

Aku hampir muntah merasakannya tapi kembali dia membelalakkan matanya kepadaku seolah-olah memerintahkanku untuk menelannya. Iwan kemudian berkata, “Elu cukup oke tapi nggak hebat-hebat banget. Nggak apa nanti belajar sama Asih atau Jenny supaya lebih ahli.”

“Sih, Jen, benerin riasannya Andi.” Iwan berteriak memanggil kedua waria itu untuk memperbaiki riasanku.

Mereka masuk sambil berkata pada Iwan, “Masak cewek secantik ini namanya Andi, ganti dong Wan, jadi siapa ya? Cing-cing aja gimana? Atau Susan?”

“Boleh Susan bagus juga.” Kata Iwan pada mereka berdua.

Asih dan Jenny kemudian memperbaiki riasanku dan membawaku keluar dengan tidak lupa mengenakanku sepatu wanita,

“Jangan yang tinggi dulu ya, nanti kalau jatuh malah repot, tapi kalau mau nanti aku ajarin caranya berjalan pakai hak tinggi.” Asih memberitahuku.

Mereka berdua kemudian meninggalkanku di pinggir jalan sambil tidak lupa memberitahu bagaimana caranya menggoda pelanggan dan bagaimana cara menawar. Mereka mengingatkan bahwa aku harus menyetor 10 juta untuk bisa dibebaskan dari hutangku.

Setelah menunggu selama 30 menit tiba-tiba ada satu kendaraan berhenti di dekatku. Pengemudinya seorang pria yang kelihatannya berusia agak tua mulai menawar dan mengajakku berkencan. Setelah menyetujui harganya aku masuk ke dalam mobilnya dan dia menjalankan mobilnya. Kami berkencan di dalam mobilnya dan aku kembali memuaskannya dengan mulutku.

Setelah itu aku masih melayani 4 orang lagi sampai tiba waktu untuk pulang. Aku sangat takut karena uang yang aku kumpulkan tidak sampai 3 juta rupiah. Dengan gemetar aku menyerahkan hasil usahaku pada Rocky dan Iwan yang langsung mendampratku dan memerintahku untuk tinggal dengan Asih dan Jenny sampai aku berhasil melunasi hutangku. Malam berikutnya kembali mereka meriasku dan menempatkanku di jalan. Tapi sebelum itu Rocky dan Iwan memberitahu bahwa karena hari sebelumnya aku tidak berhasil membawa uang sesuai perjanjian maka malam itu aku harus membawa uang sebesar 17 juta rupiah yaitu kekurangan hari sebelumnya 7 juta rupiah ditambah setoran hari itu sebesar 10 juta rupiah. Aku sangat terkejut dan merasa panik. Kalau begini terus kapan aku bisa melunasi hutangku?

Sejak saat itu aku mulai menjalani malamku di Taman Lawang. 6 bulan setelah aku menjalani kehidupanku baru aku sadari bahwa aku telah tertipu. Asih dan Jenny tidak pernah berhasil membawa 5 juta rupiah dalam sehari, bahkan mereka biasanya hanya membawa paling banyak 2 juta rupiah dalam sehari. Justru waktu aku berhasil membawa lebih dari 2 juta rupiah Rocky dan Iwan sangat senang dan merasa tidak ingin kehilangan ladang penghasilan dariku. Karena itu mereka terus menambahkan jumlah hutangku dan memaksaku terus menjadi waria peliharannya.

Mereka bahkan mulai menjadikanku waria prima dona mereka dan menyuruh aku untuk operasi payudara supaya pendapatanku tambah meningkat. Tentu saja biaya operasi payudara ini dibebankan pada hutangku. Operasi lain seperti operasi wajah supaya lebih feminin dan elektrolisis supaya tidak ada rambut yang tumbuh di badanku semuanya dibebankan sebagai hutangku. Tanpa aku sadari aku mulai terjebak dalam perangkap mereka terlebih setelah mereka berhasil memfoto diriku saat melayani Rocky dan mengancam menyebarkan fotoku ke orang-orang yang nomor telp-nya ada di hp-ku. Aku benar-benar tidak berdaya lepas dari cengkeraman mereka.

Sekarang aku sudah menjalani kehidupanku selama 1 tahun di Taman Lawang tanpa aku melihat kemungkinan untuk melunasi “hutang”-ku pada Rocky dan Iwan, tapi aku tetap menjalani hidupku karena kelihatannya aku juga tidak bisa lagi kembali ke kehidupan lamaku terlebih setelah operasi wajah dan payudaraku. Aku kini menanti uluran tangan dari orang yang baik hati yang mungkin bisa menerimaku bahkan menjadikan aku istrinya dan membebaskanku dari bebanku ini. Adakah?

This post was submitted by susanwaria.


  • - 29 Suara
    Loading ... Loading ...
Hits: 8568 hits
Penulis: susanwaria
Kategori Waria

6 Responses to “DIPAKSA JADI WARIA”

    kontol gede Says:

    :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha:
    aq mao jadi suami kmu…. :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha: :haha:

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    NONET KARET Says:

    kentotan ke’ kudo ndak….

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    tian Says:

    Kreatif bgt…ini boongan kan?

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    Poe3 Says:

    Stelah melayani pelanggan, jgn pulang, dtg ke LSM aja, laporin…

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    nabela Says:

    qu jg seorng wria.
    kira’ brpa biaya operasi payudara dan wajah??? karna qu juga ingin sprti qmu.plece blez yy

    bleh khn qu brgbung am klian???

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    kovlok Says:

    ehh tolol bangga lo jadi banci . anjing lo nabela bangga amad jdi banci tolol bego :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah: :marah:

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

Leave a Reply

:tembak: :teler: :suit: :senter: :rokok: :pingsan: :pening: :nyanyi: :ngupil: :ngamen: :nari: :nangis :muntah: :marah: :mandi: :hmmm: :hi: :hajar: :hai: :haha: :dor: :bye:

Go To Top