KENANGAN DI LOS ANGELES

Namaku Syaiful, aku adalah seorang warga negara Singapura. Aku ingin menceritakan tentang kenangan termanisku ketika aku menuntut di sebuah Universiti di LA suatu waktu dahulu. Saat saat yang penuh dengan kenangan manis yang sampai sekarang masih segar dalam ingatanku dan terlalu sukar untuk aku melupakannya walaupun aku sudah beristeri dan beranak tiga sekarang.
Begini ceritanya, semenjak dari sekolah rendah aku memang suka melihat kepada lelaki yang menyenangkan mataku memandang walaupun aku lelaki biasa dan suka pada perempuan. Jika ada lelaki yang aku senang melihatnya maka akan aku usaha sedaya upaya untuk merapat untuk menjadi temannya. Kadang kadang aku bisa sampai bernafsu bila melihat lelaki lelaki tampan ini, heren fikirku mengapa bisa jadi begini. Tak apalah mungkin pekara biasa fikirku.
Perasaan ini terbawa hingga ke sekolah menengah, maktab rendah dan waktu berjasa militer wajib. Di Singapura ini semua anak lelaki yang berumur 18 tahun keatas harus berjasa militer wajib selama 2 tahunan. Selepas berjasa militer wajib aku melanjutkan pelajaranku ke sebuah Universiti di kota Los Angeles Carlifornia dalam jurusan International Law. Waktu itu umurku sudah 22 tahun, karena baru tamat berjasa militer maka tubuhku waktu itu sungguh seksi sekali dengan otot otot yang menawan dan dada yang bidang dan juga rupa yang menawan, kulitku berwarna coklat cerah. Tapi badanku tidak besar, sekadar langsing berotot dengan tinggi/berat 179/69. Ramai kawan kawanku mengatakan jikalau ada wanita yang melihat tubuhku pasti wanita itu akan mabuk kepayang dan tak boleh tidur seminggu dibuatnya. Tapi itu kata orang, aku sikit pun tak ambil serius akan hal ini.
Aku bukan dari keluarga yang berada, hidup keluargaku boleh dikatakan kais pagi makan pagi, kais petang makan petang. Ayah ku bekerja sebagai seorang supir bis kota manakala ibuku bekerja disebuah pabrik/kilang roti. Keluargaku tinggal di rumah susun yang dibina pemerintah. Kalau di Singapura rumah susun di panggil rumah pangsa atau rumah flat. Rumah ini di beli secara beransur di mana tiap tiap bulan dibayar sisa uangnya kepada pemerintah. Aku ada dua adik lagi yang masih bersekolah pada waktu itu. Untuk menghantar aku ke Universiti di Los Angeles keluargaku harus bersusah payah menjual rumah yang satu satunya kami punyai. Aku berjanji pada ayah dan ibuku bahwa aku akan belajar bersungguh sungguh dan apabila aku bekerja nanti akan aku beli rumah yang lain sebagai ganti.
Aku sampai di kota Los Angeles pada awal bulan Juli 1995 ayah ibuku tak dapat menghantar aku ke sana karena masalah biaya maklum lah orang tidak kaya, aku berkuliah di sini dari tahun 1995 bulan Juli hingga Juni 1999. Aku ini anak kota jadi aku tidak berasa canggung setibanya aku di kota besar ini, cuma suasananya ada beda sedikit, iyalah memang namanya pun negeri orang. Aku terasa sunyi dan sepi sekali karena aku bersendirian di kota besar ini, tidak ada tempat untuk mengadu nasib jika aku di timpa masalah atau sakit pening. Tidak berapa lama kuliah pun bermula dan aku dapat berjumpa dan bergaul dengan bermacam macam orang di sini, angkatan pada musim itu kebanyakannya dari Asia. Dalam banyak orang yang aku lihat, aku sungguh tertarik sekali pada dua orang anak muda. Aku selalu perhatikan mereka, mereka ini lah yang selalu membuat aku bersemangat untuk meneruskan kuliah dan mereka berdua juga lah yang menjadi teman akrabku sewaktu aku di Los Angeles sehingga ke hari ini. Anak muda berdua ini namanya Hendra dari Indonesia dan Irwan dari Malaysia. Aku sudah tahu bahwa Hendra itu orang Indonesia sewaktu aku sedang berjalan di lobby Universiti dan terdengar dia dan keluarganya berbicara dalam bahasa Indonesia. Manakala Irwan aku tak punya banyak kesempatan untuk mendekat dengannya karena jurusannya dengan aku dan Hendra berbeda, Irwan pada mulanya ku pikir adalah orang Vietnam atau pun Philippine.
Hendra berumur 21 tahun dan dia adalah anak orang kaya, keluarganya punya banyak perusahaan di serata Indonesia. Hendra dari keturunan Jawa tidak ada kacukan, kotanya di Jogjakarta, rumahnya sangat besar dan yang paling indah yang pernah aku lihat sepanjang hayatku ini, siap dengan kolam renang dan bermacam macam fasilitas. Aku perhatikan pakaian yang selalu dipakainya sehari hari semuanya keren keren belaka, dari celananya yang bernama Georgio Armani hingga ke sepatu hingga ke jam tangannya yang bernama Omega semuanya aku lihat mahal mahal sekali. Sungguh beruntung sekali anak ini kata hatiku bila aku melihatnya dari jauh. Selain kaya, Hendra juga dikaruniakan wajah yang sungguh tampan berserta tinggi/berat 178/65, kulitnya sawo matang seperti kebanyakan orang Jawa. Wajahnya bebas jerawat dan dia sangat rajin menjaga badannya. Selain berenang, Hendra juga rajin fitness seminggu dua kali. Badan Hendra sungguh mulus, dengan pinggang ramping serta tangan dan kaki yang halus karena tidak di tumbuhi bulu-bulu. Hendra paling senang mempamerkan kemulusan bodinya di hadapan aku dan Irwan. Itu sebabnya, setiap kali hendak ML dia paling dulu menelanjangi dirinya, sembari mempamerkan lekuk liku tubuhnya dengan melakukan gerakan-gerakan erotis.
Irwan juga adalah dari kalangan keluarga berada dan berpengaruh di Malaysia, keluarganya juga punya banyak perusahaan di serata Malaysia dan Indonesia. Selain itu ayahnya juga adalah orang kuat yang digeruni dalam partai politik terbesar yang memerintah di Malaysia. Rumah Irwan juga tidak kurang hebatnya dari rumah Hendra. Rumahnya terletak di atas bukit di Kuala Lumpur di kawasan berprestij Damansara, pokoknya rumah mereka ini seperti surga diatas muka bumi ini. Irwan adalah orang Melayu berumur 21 tahun sama dengan Hendra, tapi ada juga darah Jawanya karena datuk moyangnya pun berasal dari Jawa sama seperti aku juga. Irwan dan Hendra walaupun sama umurnya tapi Irwan lahirnya dibulan Mei manakala Hendra bulan September sedangkan aku pula tahun sebelumnya bulan Oktober, jadi umur kita cuma beda bulan aja sebenarnya. Wajah Irwan tak kurang ganteng dari Hendra, Irwan berkulit hitam manis berserta tinggi/berat 177/66. Tubuh bugil Irwan dengan kulitnya yang hitam manis selalu memancing hasrat birahi aku dan Hendra. Dia paling suka bila aku dan Hendra meraba-raba sekujur tubuhnya, menikmati kelembutan kulitnya yang mulus.

Apa yang buat aku bertambah tertarik dengan Hendra dan Irwan ialah karena mereka berdua ini mempunyai sepeda motor besar, setiap kali jika ada kuliah tanpa jemu aku akan selalu menunggu dua idolaku ini di lobby Universiti berdekatan dengan pakir, aku dan Hendra satu jurusan sedangkan Irwan dalam jurusan Ekonomik. Dengan wajah mereka yang tampan dan tubuh mereka yang seksi begitu mereka mengendara motor besar aku sungguh tertegun dan bernafsu sekali melihat mereka. Hendra mengendara motor BMW 1200GS berwarna merah yang dibeli ayahnya untuk dikendara sewaktu di LA, manakala Irwan mengendara Honda Blackbird CBR1100XX berwarna biru metalik juga dibeli ayahnya untuk kegunaan transportasinya. Huiii memang motor terkeren pada waktu itu [dan juga kini], aku juga bisa mengendara motor besar tapi pada waktu itu aku masih kurang biaya dan hanya boleh mimpi aja untuk memilikinya. Aku mengenali Hendra duluan sebelum aku mengenali Irwan dan sesudah itu Hendra, Irwan dan aku semua menjadi sahabat yang erat. Karena asyik selalu memerhatikannya lama kelamaan Hendra mengetahui akan hal ini. Hendra mula memerhatikan aku juga tapi aku cuek aja berlagak seperti tidak ada apa apa yang terjadi, bila dia memerhatikan aku, aku dengan pantas akan beralihkan pandanganku ke tempat lain, bila dia mahu mendekati aku, aku dengan pantas juga akan menuju ke tempat lain. Aku berasa gerun untuk mendekati Hendra pada waktu itu, takut nanti dia mahu cari gara-gara dengan aku yang sentiasa memerhatikannnya , maklum lah aku ini orang biasa aja anak supir bis kota, lagian dalam mindaku ini aku selalu membayangkan bahwa orang kaya itu semuanya sombong sombong tidak mempunyai perasaan.
Satu sore ataupun petang selepas kuliah aku membeli air kopi dari mesin air, aku tidak ternampak Hendra berdiri di sisi mesin itu sembari dia mengetik ngetik telepon gengamnya, begitu air kopi hangatku siap aku terus mengambilnya dan berpaling ke kiri untuk pergi, secara kebetulan Hendra pun maju ke depan.“Bushh” alamak! aku ketabrakan dengan si Hendra, aku sungguh terkejut sekali karena habis baju dan HP Hendra basah terkena tumpahan air kopiku. Aku mula berasa cemas karena aku tahu ini anak orang kaya nanti kalau dia laporkan pada orang tuanya mampus aku bisa kena dakwa di mahkamah pikir ku sejenak.
“Auuuwww Im so sorry bro I did’nt see you coming Im so sorry”
kata Hendra dengan sopan dan nada kesal dengan loghat Indonesianya yang ketara, dia mengibas ngibas tangannya karena kulitnya terasa sakit dari panas air kopiku yang tertumpah ke tangannya tadi. Sesaat aku terdiam, aku merasakan Hendra baik orangnya dari tutur katanya tadi tidak seperti apa yang aku gambarkan selama ini. Karena aku tahu dia orang Indonesia, lalu aku membalas dalam bahasa Melayu.
“Saya yang sepatutnya minta maaf bang, saya tidak berhati hati tadi dan main keluar melulu, maafkan saya bang” pintaku seperti orang bersalah mahu minta ampun.
Mendengar percakapan dan loghatku lalu Hendra tersenyum senyum dan bertanya
“Elo orang Malaysia?”
“Tidak bang saya dari Singapura” jawab ku sembari aku mengeluarkan tisu untuk mengelap baju dan HP Hendra yang basah itu. Hendra membiarkan aja aku mengelap HPnya tapi tanda kopi di bajunya tak bisa hilang lalu aku berkata
“Maaf bang kalau tanda kopi dibajunya tak boleh hilang bang, hari Senin abang bawa ya nanti saya cucikan di tempat saya. Mendengar itu Hendra langsung menjawab
“Lho koq pake abangan segala emangnya gue kelihatan lagi tua dari elo?, kenalin nama gue Hendra”
Hendra menghulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan sekaligus mengenalkan dirinya padaku lalu aku sambut dengan hangat dan aku jabat dengan erat tangannya itu.
“Nama saya Syaiful” aku menjabat tangannya sembari aku memberikan senyum termanisku untuknya.
“Baju anda itu bagaimana, Calvin Klein mahal tu”
“Gak usah khawatir deh nanti gue nyuruh pembantu gue yang nyuciin”
Dia melingkarkan tanganya ke pundakku dan mengeratkannya untuk meyakinkan aku agar tak usah risau akan baju mahalnya yang kotor itu.
“boleh gak kalo gue panggil elo Syai aja?”
“Eh boleh aja mengapa tak bole pula” jawabku sopan, Hendra tersenyum dan berkata
“Mari Syai gue traktir elo makan”
“Traktir? apa benda tu?”
Tanyaku keheranan seperti orang bego maklum belum mengerti sangat bahasa Indonesia pada saat itu.
“Traktir itu artinya gue mau belanja elo makan”
“Ooooohhhhh” jawabku panjang sambil tersenyum, aku pura pura menolak seperti menjual mahal, aku katakan padanya tidak mengapa karena aku pun masih punya uang receh untuk membeli segelas lagi air kopi yang tertumpah itu tadi. Dia mengajakku lagi dengan nada yang memelas dan berharap sangat agar aku terima tawarannya itu. Dalam hati aku bersorak hooreyy, ini lah masanya untuk aku mengenal dengan lebih dekat lagi idolaku yang satu ini. Aku pun senyum dan menganggukkan kepala ku tanda setuju, aku bisa melihat wajah Hendra seperti sungguh bahagia sekali pada saat itu.
Hendra mengajak aku berjalan ke pakir di mana dia memakir motornya yang keren itu, hatiku sungguh gembira sekali karena akan dapat membonceng motor yang hanya aku bisa mimpi aja untuk memilikinya. Karena motor Hendra ini adalah motor touring atau motor mengembara maka kiri kanannya ada pannier atau kotak untuk menaruh barang barang keperluan. Di dalam panniernya itu ada lagi sebuah helm lebih.
“Kamu selalu bawa helm lebih ya Hen?” Tanya ku
“Iya terlanjur ada kotaknya jadi gue bawain aja koq”
“Elo mau makan dimana Syai?”
“Terserah kamu, aku ini kan mengikut aja, lagi pun aku memang tak tau tempat tempat yang ada di kota ini”
Hendra menyalakan GPSnya, iya waktu itu GPS dan internet sudah ada di Amerika Serikat tinggal lagi belum diglobalisasikan, di tekannya ikon untuk mencari tempat makan, lalu berderet derat nama tempat makan di daerah dan luar kota muncul dan dia menekan Lagun Sari Indonesian Restaurant. Alat GPS sudah bersedia membawa kami ke tempat tujuan. Hendra menghidupkan mesin motornya “Vvrrrooommmmmm” wah bunyi motornya sungguh mengasyikkan sekali, berbeda dengan punyaku di rumah yaitu Yamaha RXK 125cc. Hendra menyarung jaket kulit hitamnya yang aku rasa pasti mahal harganya aku pun tanpa membuang masa langsung memakai helm Arai Full Facenya. Hendra meminta maaf padaku karena dia cuma ada satu jaket aja. Aku meyakinkannya tidak apa apa, aku dapat bonceng motornya yang gede itu pun aku sudah bersyukur.
Motornya pun meluncur laju dan Hendra mengendara motornya mengikut arahan dari GPS. Di highway aku lihat jarum speedometernya sudah 120km, lalu naik lagi 140, lagi 160 lagi 180km, huuh laju gila kata ku dalam hati. Walaupun motornya laju begitu tapi aku tidak merasa gerun atau pun takut, malah motornya itu terasa tersangat nyaman dan mantab sekali. Mesinnya itu sungguh bertenaga dan bunyi mesinnya pun tidak kedengaran langsung cuma yang terdengar hanyalah bunyi desiran bayu yang berlalu, huhh sungguh luar biasa sekali ku rasa, beda benar motor mahal dengan motor murahan. Jantung ku bergemuruh kencang, aku benar-benar grogi duduk sedemikian rapat dengan cowok ganteng bertubuh harum menyegarkan ini. Punggung lebar Hendra yang empuk berotot bersentuhan rapat dengan dadaku yang cukup bidang. Telapak tanganku mencengkeram kuat perut Hendra yang rata, keras, dan berotot. Sedangkan adikku beradu rapat dengan buah pantat Hendra yang bulat empuk. Sepanjang perjalanan aku khawatir jika Hendra merasakan pembesaran ukuran adikku yang menempel erat di buah pantatnya itu.
Sesudah 40 menit sampai juga kami di restaurant, tak ada satu kalimat pun dari Hendra yang menyinggung soal pembesaran adikku. Aku merasa lega, sepertinya Hendra tidak menyadari kekurang ajaran adikku yang mengeras seenaknya tadi. Aku membuat taksiran dengan kelajuan dan masa yang perlu sampai kesini aku perkirakan yang kami lebih kurang sudah 200km jauh dari Universiti di kawasan San Marcos. Huhh jauh benar ni kata ku dalam hati. Kami masuk ke tempat makan, sore itu yang hampir malam Hendra mentraktir aku makan sebagai ganti kopi aku yang tumpah sore tadi, dia bilang padaku agar memesan apa aja yang aku mau makan dan tak usah malu malu. Di daerah ini pada waktu itu hanya ada satu sahaja restaurant makanan Indonesia. Aku hanya memesan Mie Soto kegemaran ku dan es cendol…nyum nyum. Hendra pula memesan nasi goreng dan godo gado, karena aku memesan es cendol dia pun jadi ikutan memesannya juga, soalnya udah lama tidak merasakan katanya.
Ketika makan Hendra banyak bercerita tentang keluarganya, perusahaan ayahnya, sekolahnya dulu dan pacar pacarnya. Aku juga banyak bercerita tentang diriku dan keluargaku kepada Hendra, Hendra baru tahu kalau aku ini bukan dari keluarga yang berada. Di kala tengah makan aku selalu mencuri pandang ke wajah Hendra yang ganteng itu, bila dia hendak berpandangan padaku aku dengan cepat menfokus pada makananku dengan harapan dia tidak nampak aku mencuri pandang wajahnya tadi. Usai makan arloji di tangan ku sudah menunjukkan pukul 19:45 waktu Amerika Barat. Aku mengucapkan terima kasih kepada Hendra yang sudah mentraktir aku makan tadi dan aku minta pamitan.
“Elo yang benar mau pulang sendirian, elo tau gimana mau pulang sendiri gak? Mau naik apa elo?’’
Benar juga kata ini anak dalam hatiku, mau naik apa ya? Taksi atau Subway atau bis? kalau mau naiknya pun dari mana ya, lalu aku pura pura berbasa basi dengan Hendra.
‘’Tidak lah Hendra aku ni kan dah banyak menyusahkan kamu, kamu sudi belanja aku makan aku sudah sangat berterima kasih dan bersyukur’’
‘’Sudah lah Syai elo jangan mau macem macem dan malu malu ama gue, anggap aja gue ini seperti saudara elo’’
“Elo nginapnya dimana Syai?”
‘’Er..di err’’
Aku merasa ragu untuk menjawab karena tempat nginapku itu di pinggir kota lebih kurang 1 jam perjalanan menggunakan Subway dari Universiti. Lagi pun tempatku itu tempat yang tidak keren, tempat itu terlihat seperti tempat banyaknya orang orang preman. Itu aja tempat yang aku bisa mampui karena harga sewanya tersangat murah lebih kurang USD80 sebulan. Tempat nginap ku itu adalah sebuah bangunan seperti rumah susun, dalam bangunannya ada banyak kamar. Tempat nginapku hanya lah sebuah kamar yang kecil yang hanya ada satu ranjang dan sebuah meja untuk aku menulis dan mengulangkaji pelajaranku dan sebuah lemari tua. Kamarnya kelihatan usang dan tak ada kamar mandi, kamar mandinya di luar kamar diujung lorong. Aku malu sekali jika aku harus memberitahu Hendra di mana aku menginap. Melihat aku terbata bata lalu Hendra mempelawa aku bermalam di tempatnya. Aku dengan tidak ragu ragu mengiyakan aja, karena memang saat begini lah yang menjadi kemahuan ku agar aku bisa lebih merapat lagi dengan Hendra. Walaupun aku baru berkenalan dengan Hendra pada tika itu tapi aku merasakan seperti ada kehangatan dalam pertemuan kita ini, aku cepat benar berasa serasi bersama Hendra, mungkin karena memang kami ada “chemistry” atau mungkin bahasa kami tidak banyak berbeda atau pun juga karena aku dirantauan dan tak punya siapa siapa. Entah lah aku pun tidak tahu, pokoknya aku mahu terus menjaga pertemuan dan persahabatan ini sebaik baiknya.
Hendra menginap di sebuah Kondominium yang ku perkirakan adalah tersangat mewah dan berprestij sekali terletak di lantai 50, pertama kali aku menjejakkan kakiku ke dalam kondonya aku sampai tertegun tegun dan terkesima melihatkan kemewahan di dalam kondonya itu. Persis seperti istana hiasannya. Hendra tinggal sendirian di kondo ini, setiap pagi ada seorang perempuan Filipina yang diupah ayah Hendra datang untuk menjaga kondonya dan juga mencuci pakaian Hendra yang kotor. Pembantunya akan datang pada waktu pagi sekitar jam 6 dan pulang sekitar 2 sore atau petang dari hari Isnin sampai Jumaat. Selain itu kerjanya juga ialah untuk menyiapkan sarapan Hendra dan mengemas rumah, pembantunya juga diarahkan untuk membereskan lemari es Hendra. Lemari esnya itu sentiasa akan di isi dengan segala jenis minuman dan makanan persis toko kelontong ataupun kedai runcit. Dari balkon ruang tamunya boleh ternampak hampir kesemua kota Los Angeles di sebelah timur dan utara dan Universiti kami juga. Kondonya itu berdekatan dengan Universiti kami lebih kurang 5km. Dia memberi tahu ku bahwa kondo ini kepunyaan keluarganya, memang sudah di beli lebih kurang setahun sebelum Hendra mahu berkuliah di Los Angeles. Harganya USD4juta, ayah Hendra membeli kondo ini atas dasar pelaburan, akan dijual untuk diraih keuntungannya setelah Hendra selesai berkuliah. Dalam kondonya tersangat mewah, luas dan nyaman, ada 5 kamar dan semuanya ada kamar mandinya sendiri dan balkon. Ruang tamunya luas sekali boleh buat main tennis di dalamnya, kondonya itu berukuran lebih kurang 290 meter persegi. Hendra memberi aku handuk dan sehelai baju dan seluar ataupun celana pendek untuk aku pakai selepas mandi. Karena ukuran tubuh ku dengan Hendra sama maka tak ada masalah untuk aku memakai baju dan seluarnya. Hendra mengajak aku masuk ke kamarnya, ranjangnya berukuran king size. Lumayan sekali, aku duduk di sofa berdekatan ranjangnya dan dia menyalakan TV untuk aku menonton. Lalu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sekeluarnya Hendra dari kamar mandi Hendra hanya memakai celana dalamnya aja, aku betul betul terkesima dengan pemandangan tubuh Hendra yang begitu seksi dan mengiurkan itu adikku pun sempat terbangun dari tidurnya, aku tersadar bila Hendra menegurku.
‘’Syai koq elo ngelihat gue seperti mau nelan gue hidup hidup gitu lho”
Aduhhh aku langsung merasa malu, terkejut, takut semua bercampur aduk menjadi satu, lalu dengan pantas aku pun menjawab
‘’Eh tidak lah itu seluar dalam kamu itu seksi sekali mana kamu beli ya?”
Dengan tidak berkata apa apa Hendra cuma tersenyum nakal aja melihat ulahku itu. Aku pun dengan cepat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badanku yang memang sudah sehari suntuk di luar dan kelengketan. Sekeluarnya aku dari kamar mandi jam di dinding menunjukkan sudah pukul 23:30, Hendra pun sudah tertidur dalam posisi terlungkup dan lampu utama sudah dimatikan, Hendra memakai celana bermuda dan bertelanjang dada. Aku mengambil bantal dari sofa lalu aku letakkan diatas lantai berkarpet dan terus mahu tidur. Lalu Hendra bersuara
“Koq elo tidurnya di bawah Syai’’
“Kamu belum tidur Hen, tak mengapa lah aku sudah biasa begini ’’
‘’Di sini aja koq bersebelahan gue, koq elo masih malu malu ama gue”
Lalu aku tanpa membuang masa aku pun naik ke ranjang dan tidur bersebelahan dengan Hendra. Beberapa menit selepas itu Hendra melingkarkan tangan kirinya ke perutku, aku biarkan aja, takut aku mahu buat yang tidak tidak dengan dia karena baru sore tadi aku mengenal dia, lagian adikku lagi mengeras takut aku kalau tangannya tersentuh dan nanti dia tahu aku bernafsu dengannya karena waktu itu aku tak tahu apa perasaannya dengan aku. Malam itu kami tidur pulas tanpa terjadi apa apa mungkin karena malam itu kami kepenatan. Paginya aku tersadar jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi, hari itu hari sabtu tak ada kuliah, Hendra sudah bangun duluan dan sudah bersiap siap untuk pergi berenang di kolam renang di bawah kondo.
“Elo mau ngikut gue pergi berenang gak Syai, itu celana mandinya ada gue letak atas sofa”
“Ok boleh juga Hen aku memang dah lama tak berenang ni”
Jawab ku. Aku sengaja tak mahu pakai celana renang, aku tetap memakai celana bermuda Hendra, aku takut kalau melihat tubuh Hendra yang seksi nanti adik ku ini bisa terbangun dan terkeluar dari sangkarnya, huhh bisa repot tu nanti aku bayangkan. Di kolam renang aku berenang berronde ronde sampai aku kepenatan, aku berhenti berenang dan lantas aku ke sudut kolam renang untuk beristirehat sebentar, sudut ini yang paling stratergis aku rasa karena dari sudut ini aku boleh melihat tubuh Hendra dengan bebas sepuas puasnya. Aku asyik aja memerhatikan Hendra sampai aku rasa Hendra ketahuan, lalu dia datang ke tempat aku beristirihat
“Syai gue perhatiin elo suka sekali ya ngelihat body gue”
“Eh tidak la Hen aku lagi perhatikan itu anak anak sedang bermain diujung sana”
“Oh iya lagi ngelihat anak anak diujung sana lagian main ya tapi bola mata elo koq bisa ngikut ke sana sini gue pergi ya”
Aduhh memang selama ini dia pun memerhatikan pergerakanku, ahh repot ni, lalu aku menjawab dengan nada bercanda dan coba menggoda
“Tapi Hen apa ada salahnya kalau betul aku suka memerhatikan kamu, kalau salah kamu buat aja laporan ke bapak polisi ya, nanti aku bisa temankan kamu ke kantornya mau tak”
Hendra tersenyum senyum nakal mendengarkan aku berkata demikian, senyum nakalnya itu membuat aku betul betul bernafsu dan boleh buat aku jadi gila.
Usai berenang kami hanya mengelap badan kami aja agar airnya tidak menetes netes disepanjang jalan dan didalam lift. Di kamar, Hendra langsung masuk ke kamar mandi untuk membilas badannya, selepas dia giliran aku untuk masuk. Seusai mandi dan mengeringkan badanku dengan hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada aku keluar dari kamar mandi. Ternyata Hendra sudah menunggu dengan hanya bercelana dalam dan tanpa memberikan kesempatan langsung menarik aku ke pelukan badannya dan melumat habis bibirku yang merah merekah.
“Mmmhh, mmmmm”, aku tercungap-cangip mendapatkan serangan mendadak itu, apalagi ciuman Hendra yang tidak tanggung-tanggung membuat aku sulit bernafas. Hendra memberikan kesempatan aku bernafas dan mengajak ku menuju ke tempat tidur. Di sini ciuman mautnya yang dahsyat itu berlanjutan, namun aku sudah siap untuk melayaninya dengan baik, bibir Hendra yang merah muda menghisap bibir ku yang kemerahan dan lidahnya menyapu langit-langit dan lidah ku membalas dengan hisapan yang membuat kami melayang dalam kenikmatan. Tangan Hendra menjelajahi leher, punggung dan pinggang ku yang mulus, membuat aku mendesah menikmati usapan lembut dari tangannya yang berotot di daerah-daerah sensitive ku. Tangannya yang lain meremas-remas pantat ku yang padat membukit, mendorongnya sehingga kemaluan ku menekan kemaluannya yang tegak menyembul dari balik celana dalamnya. Nikmat juga beginian dengan sesama lelaki fikirku dalam hati.

Hendra melanjutkan ciumannya ke leher ku yang mulus, menyapukan lidahnya dengan lembut ke bagian belakang telinga ku dan kemudian dengan lembut menggigit dan menghisap cuping telingaku.
“Ssshh, ahh, aagghh..” aku mendesah merasakan sensasi yang sangat ku sukai itu sambil melingkarkan tanganku dikepala dan leher Hendra.
Sementara tangan Hendra menjelajah dua bukit kembar yang mempunyai puncak yang diselimuti warna coklat muda.
“Auwhh..” aku terpekik kecil ketika tiba-tiba Hendra memilin puting susuku dengan agak kuat, namun rasa terkejutku segera hilang oleh rasa nikmat ciuman dan sapuan lidah yang hangat dipangkal leherku, yang seakan menimbulkan aliran listrik diseluruh badanku. Kemudian Hendra menunduk, mengusapkan ujung lidahnya ke dada ku, membuat gerakan spiral melingkar yang makin mengecil sampai akhirnya mengulum dan menghisap puting susu ku yang tegak mengeras oleh rangsangan itu. Hendra menggesekkan lidahnya ke kepala puting dan menghisapnya dengan kuat, melepaskannya lalu menghisap lagi dengan kuat dan sesekali menggigit dengan lembut puncak bukit kenikmatanku itu. Aku dibuatnya hampir senewen dengan tingkahnya itu, berbagai sensasi perasaan berkecamuk di dalam diriku, pada saat Hendra menghisap dengan kuat puting susuku, seolah-olah ada sesuatu dalam diriku yang ikut keluar melayang, membuat aku tidak dapat berdiri lagi dengan baik, sehingga diriku seolah olah luruh dalam dekapan Hendra yang kuat. Pekikan-pekikan kecilku malah membuat Hendra makin terangsang dan meningkatkan serangannya ke kedua puting susuku, yang memang merupakan salah satu bagian tubuh favoritnya. Hendra baru menghentikan kegiatannya setelah kedua puting susuku berwarna kemerahan dan agak sedikit membesar karena dihisap dengan kuat berkali-kali. Hendra kembali mencium bibirku yang terengah-engah oleh aksinya tadi, dan menikmati kelembutannya tanpa balasan, karena aku pasrah membiarkan bibirku dikulum dan hanya mendekap erat badan Hendra dan ketika Hendra mengecup leherku aku berbisik,
“kamu sungguh berpengalaman sekali ya Hen, oooohhhh..”

Aku melepaskan celanaku dan celana dalam Hendra, kemudian melancarkan serangan balasan ke dada Hendra yang bidang dengan kulitnya yang sawo matang, memancarkan kejantanan tersendiri. Aroma badan Hendra memberikan rangsangan yang tidak dapat dilukiskan dan dua bukit kembar yang dimilikinya seolah dua bukit batu yang keras dan putingnya yang berwarna hitam mengarah ke sisi bawah luar tiap bagian dadanya. Aku mencium dan menghisap setiap bagian dada Hendra dan menggigit lembut putingnya. Kemudian perlahan turun dan menjumpai kemaluan yang tegak berdiri, terlihat hitam mengkilat karena ereksi yang kuat, dengan lingkaran kemerahan di dekat kepala penisnya. Batang kejantanan itu tegak berdiri sepanjang 16 cm dan diameter kepalanya yang mencapai 8 cm membuat aku sangat menyukainya, apalagi bentuknya yang menyerupai ice cream cone, membuatku semakin nikmat untuk digenggam dan dikulum. Aku mengulum kepala penis Hendra yang besar itu dan menghisap precum yang ada kemudian menyapu lubangnya dengan ujung lidahku dan terus menyapu ujung kepala penis itu dengan lidahku, yang membuat Hendra mendesah merasakan nikmat di batang kejantanannya. Ketika aku memasukkan seluruh kepala kemaluan itu ke dalam mulutku, sensasi kehangatan yang lembut menyergap Hendra, yang menikmatinya dengan mata terpejam dan kedua tangannya mengusap kepalaku dengan lembut.

Setelah merasakan kenikmatan oral sex dan mencapai tingkat ereksi yang maksimum, Hendra membaringkan aku di ranjang dan menyibakkan kakiku sehingga terlihatlah lubang kenikmatan yang sempit dan masih perjaka di depan matanya. Hendra segera mendekatkan bibirnya ke lubang yang kemerahan dan mulus tanpa rambut itu lalu menjulurkan lidahnya untuk merangsangnya supaya dapat menerima batang kemaluannya yang besar. Aku tergelinjang tiap kali lidah Hendra terjulur mendesak ke dalam lubang kenikmatanku, membuat gerakan melingkar dan menembus ke dalam lubangku. Setelah beberapa saat, Hendra menuangkan gel pelicin ke lubangku dan menusukkan jarinya ke dalam untuk membasahi bagian dalamnya. Perlahan Hendra mengarahkan kemaluannya ke lubang yang sudah siap menerima dan memberikan kelembutan dan kehangatannya. Kakiku yang lebar mengangkang disandarkannya ke pundaknya dan batang kemaluan itu sedikit demi sedikit mendesak ke dalam lubang kenikmatan yang sudah mulai berdenyut itu. Karena ini pertama kali ku dianal aku meringis menahan sakit ketika kepala penis yang besar itu mendesak terus ke lubang anusku, dan ketika seluruh kepala itu dapat masuk, kami berdua merasakan jepitan otot rektum yang menutup kembali setelah bagian terbesar dari kepala penis itu melaluinya memberikan sensasi yang nikmat dan seolah lubang itu menyedot penis ke dalamnya. Tanpa membuang waktu lagi Hendra menanamkan seluruh batangnya ke dalam tubuhku, yang mengerang kecil ketika penetrasi awal itu berlangsung. Segera setelah kehangatan melingkupi seluruh batang kemaluannya, Hendra menunduk dan mengulum bibirku untuk mengalihkanku dari rasa sakit oleh desakan penisnya. Kemudian Hendra membuat gerakan maju mundur yang lembut, dan sesekali memutar pinggulnya untuk memompa aku yang mulai dapat menikmati kehadiran benda asing di dalam lubang kenikmatanku. Setelah beberapa saat melakukan goyangan dan memaju mundurkan penisnya, Hendra membenamkan batang kemaluannya dengan kuat ke dalam lubangku, mendorongnya dan memutar pinggulnya untuk mendapatkan penetrasi yang maksimal. Aku sampai tergelinjang kuat oleh penetrasi ini.
“Aaahhhhhh, dalam sekali Hen, eeeggghhhh”, Hendra semakin bernafsu melihat aku begitu, tanganku mencengkeram lengan Hendra dan kepalaku terdongak karena merasakan hangat dan mulas di perutku. Hendra melepaskan kakiku dan menindih tubuhku dengan badannya, kedua tangannya melingkar di badanku dan mendekapku erat, sambil mengulum bibir yang merekah dan merangsang itu.
“Mmmh, egghh, mmhh”, aku kewalahan melayani nafsu Hendra yang sedang membara itu, kedua tanganku mencengkeram pundak Hendra dan kadang kadang tanpa sadar mencakarnya karena Hendra belum mengendurkan penetrasinya dan lebih kuat menggoyang pinggulnya untuk mendesak ke dalam lubang ku. Gerakan melingkar pinggul Hendra itu membuat batang kemaluannya yang tegang dan kuat di dalam diriku bergerak mendesak ke segala arah, dan itu membuat sensasi yang luar biasa yang membuat perasaan hangat, mulas, nikmat dan melayang yang sangat hebat dirasakan oleh ku.

Setelah Hendra mengendurkan tekanannya dan menggerakkan penisnya dengan lembut, aku mendesah dan berbisik, “kamu luar biasa, Hen”
Hendra tidak menjawab, hanya mengulum lembut bibirku dan menjelajahi lagi leher dan dadaku, yang memberikan rangsangan ganda kepadaku. Setelah itu Hendra perlahan mengeluarkan penisnya, membimbing aku ke kamar mandi, lalu meminta aku membelakanginya. Penisnya pun dimasukkannya kembali dan Hendra memeluk ku dari belakang, siap memberikan sensasi puncak kepada aku. Dengan rangsangan bibir dan tangan ditambah goyangan dan desakan kemaluan di lubangku, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang membuatku serasa melayang di awan-awan. Dan setelah beberapa saat aku mendesah,
“Aku mau keluar Hen..”

Hendra kemudian menggenggam dan mengocok kemaluan ku, mencium dan mengulum leher dan telinga ku dan satu tangannya memegang pinggang ku untuk menahanku karena aku menggelinjang dengan kuat menggapai puncak kenikmatan birahiku. “Arrghh, hh, hh, ahh. ” aku pun menyemburkan maniku, sedemikian kuat sampai mencapai dinding kamar mandi, dan Hendra merasakan denyutan yang sangat kuat memijat kemaluannya, dan ketika dia mencoba memaju mundurkan kemaluannya terasa sulit karena jepitan yang sangat kuat dari lubang ku yang sedang menggapai orgasme.

Denyutan itu memberikan pijatan hangat yang membuat saraf Hendra tak dapat lagi menahan kenikmatan yang menjelang dan sesaat kemudian Hendra memancarkan maninya dalam tubuh ku dan penisnya berdenyut kuat, memberikan tambahan kenikmatan bagi ku yang bisa merasakan dengan jelas denyutan batang kemaluan Hendra itu. Hendra mendekap ku erat, dan kami berdua menikmati orgasme bersama-sama. Setelah itu kami berdua membersihkan diri dan mandi, lalu kami berdua berbaring dan beristirihat setelah melakukan kegiatan yang sangat melelahkan namun sangat menyenangkan juga itu. Aku berada di pelukan Hendra yang tersenyum memandang wajah “cute” ku didekapannya. Lalu aku memulakan percakapan.
“Kamu tadi langsung menyerang aku mendadak dari mana kamu tau aku suka main sama cowok”
“Elo gak usah pura pura deh Syai, memang sedari dulu gue pun udah perhatiin elo suka sekali ngelihat gue dimana mana, di kuliah, di cafe, elo juga selalu salah tingkah dan mau menjauh dari gue waktu gue pengen ngedekati elo. Waktu gue ngebonceng elo semalam gue ngerasain kontol elo ngaceng terus di belakang gue, memang sedari semalam gue udah gak tahan ngelihat elo, maafin gue kalo gue ngerjain elo mendadak tadi”
Ternyata selama ini Hendra pun sadar bahwa aku selalu suka memandang tampangnya yang ganteng itu. Kejadian adik ku keras bangun terus sewaktu di bonceng Hendra semalam pun dia tahu. Aku jadi tersipu sipu malu. Lalu aku dengan mengikut loghat Hendra aku pun menjawab
“Hen kalo yang nyerangin gue itu cowok ganteng kayak elo gue memang gak peduli deh malah gue pasrah aja koq”
“Wakakakaakkakaka” Hendra tertawa tawa tak boleh tahan bila mendengar aku meniru bercakap seperti dia
“Elo udah pinter ya sekarang, bisa ngomong cara anak Jakartaan ya”
“Dudu Jakartaan wae rek, nek nyuruh aku ngomong Jowo aku iso ugo koq”
Hendra lagi tambah terkejut pabila mendengar aku berbahasa Jawa. Semenjak ML kami yang pertama aku menjadi semakin rapat dan sayang dengan Hendra, malah kami berdua sudah boleh digelar sebagai sepasang kekasih. Walaupun kami tidak pernah mengatakan itu tapi jauh di lubuk hati kami masing masing kami ada merasakan perasaan itu. Aku sudah tidak kesepian and kesunyian lagi, tidur ku sekarang sudah berteman, begitu juga Hendra. Hendra walaupun tampak “decent and innocent” tapi tidak ku sangka permainan seknya sungguh berpengalaman sekali, nafsu sek Hendra pun boleh tahan tinggi juga. Kadang dalam semalam sampai 4 kali dia muncrat dianusku, kalau hujung minggu tak ada kuliah boleh sampai 6 kali pun dia bisa juga, aku sampai lemah lunglai tidak bermaya dibuatnya. Tapi aku tak ambil pusing itu semua karena aku sangat sayang sekali kepada Hendra. Hendra memberitahu ku bahwa dia sering ML dengan pacar pacarnya baik cewek atau pun cowok sewaktu dia bersekolah di Jogja dan Jakarta, tapi bagi ku ini adalah yang pertama aku lakukan dengan Hendra, aku bilang keperjakaan ku sudah di ambil dia, aku pun tidak keberatan kalau keperjakaan ku di ambil cowok setampan Hendra.

Sudah hampir sebulan aku menginap di apartment Hendra sampai aku pun bisa ikutan ngomong cara dia, selama dengan Hendra makan minum ku semua di bereskan olehnya, pakaian ku pun di basuh sama oleh pembantu Pilippinanya, mahu ke kuliah juga aku bisa membetis aja, aku malahan dapat berhemat sewaktu di sini. Pakaian ku pun Hendra yang banyak belikan, tapi yang baru di beli itu aku selalu suruh dia yang pakai duluan, aku pakai baju seluarnya yang lama aja. Hendra ada mengatakan pada ku yang ayahnya mengirim USD2000 setiap bulan untuk biaya hidup kuliahnya, memang beruntung anak ini pikir ku berbeda dari aku yang hanya bisa mendapat USD400 aja. Selain uang bulanan Hendra juga ada credit card yang credit limitnya mencecah angka USD10000, memang kaya ini anak. Sebelum aku mengenal Hendra untuk berhemat aku selalu makan sekali aja dalam sehari dan aku banyak mereguk air pipa aja di sekolah. Pagi sabtu itu aku bilang Hendra yang aku harus pulang ke kamar karena aku perlu melunaskan sewa kamar ku untuk bulan Nopember. Hendra mahu ikut sama ke tempat ku, aku serba salah di buatnya karena aku takut dia jijik melihat keadaan kamar ku yang usang. Bermacam macam helah aku buat tapi dia masih berdegil mahu ikutan juga, aku akhirnya mengalah dan aku bilang dia agar jangan menyesal kalau melihat tempat di mana aku menginap. Hendra bilang tidak ada penyesalan karena dia sudah menganggap aku sebagai sebahagian dari hidupnya, aku sungguh terharu dengan kata katanya itu.
Hari itu Hendra menyuruh aku mengendara motornya, dia mahu duduk di belakang aja, katanya dia mahu adiknya ngaceng di belakang ku, aku tersenyum aja sembari aku mencubit perutnya manja dan berkata “dasar elo”. Aku starter motornya “Vrrrommm” “Vrommmm” huhh sungguh mempersonakan bunyi mesinnya, GPSnya aku nyalakan, aku ketik nama jalan yang ingin kami tujui dan sebentar kemudian kami sudah bersedia untuk meluncur. Terasa nikmat sekali mengendara motor BMW Hendra, prestasinya sungguh luar biasa, penuh bertenaga dan tidak menghampakan, begitu throttlenya di pulas motornya melaju terus. Aku mengendara motor berpandukan arahan dari alat GPS. Ternyata kalau ngendara sendiri lebih cepat sampainya, iya la karena tidak seperti Subway yang harus berhenti di setiap stasiun kan. Setelah 30 menit mengendara sampai lah kami ke kamar sewa ku, aku pakirkan motor di pinggir jalan, kami berdua pun turun dari motor. Begitu melepas helm aku terlihat seperti ada kejengkelan di mimik wajah Hendra, aku terasa serba salah melihatkannya seperti itu. Dia melihat lihat bangunan yang menempatkan kamar ku yang sudah kehitaman seperti sudah 20 tahun tidak di cat oleh pemiliknya. Aku menunduk malu lantas aku langsung ke tangga untuk ke kamarku dan meninggalkannya sendirian, namun Hendra menyusulku kemudian.
“Lantai berapa Syai?”
“lantai 8” jawab ku
“Liftnya mana?”
“Maaf liftnya sudah lama rusak, pemiliknya tak mau perbaiki mau hemat kos katanya”
“Lho gimana gak ada liftnya bisa mudar ni kalo hari hari harus mendaki tangga”
Hendra sedikit mengomel karena harus mendaki tangga, bagi ku itu sudah menjadi perkara biasa. Setelah mendaki tangga sampai lah kami di luar kamar sewaku, lorong menuju ke kamar agak gelap karena tidak kemasukan cahaya matahari. Aku membuka pintu dan langsung menyilakan Hendra masuk. Di dalam kamar aku duduk di pinggir ranjang sambil memerhatikan tingkah Hendra, Hendra melihat lihat kamarku yang sempit itu yang hanya ada sebuah ranjang usang, lemari yang pintunya sudah tidak keruan dan meja belajar yang sudah pantas untuk di buang, dari bumbung sampai ke lantai dari tembok kiri sampai ke tembok kanan dan keliling dia melihatnya, aku sampai tertunduk malu diam seribu bahasa.
“Ini kamar elo Syai?” Tanya Hendra lirih, Hendra merasa terharu dan iba melihatkan keadaan aku begini sampai matanya berkaca kaca lalu air matanya meleleh di pipinya.
“Iya Hen, maafkan aku kalau aku telah mengecewakan kamu Hen” jawab ku lirih juga.
“Gue gak tega elo nginap di sini Syai” air mata Hendra terus mengalir, dia terus mendekatkan dirinya padaku dan duduk disamping kananku sembari tangan kirinya dilingkarkan ke pundakku.
“Aku harus tinggal di mana Hen, ini aja yang aku mampu, maafkan aku kalau aku tidak seperti yang kamu harapkan, maafkan aku Hen” aku menjawab dengan nada penuh penyesalan.
Aku merasa sungguh sedih sekali, dalam hati, aku terasa Hendra mungkin jijik dengan keadaan aku dan kamarku ini, aku mula meneteskan air mata juga karena aku sedih dipandang hina seperti apa yang aku sangkakan dari Hendra. Hendra mengesat sisa air mata yang ada di pipinya dan juga di pipiku lalu dia meneruskan cakapnya
“Elo jangan salah sangka Syai gue bukan bermaksud mau menghina elo, anak seganteng elo gak pantes tinggal di sini Syai”
“Tapi itu lah kenyataannya Hen”
“Ayo lah Syai elo tinggal ama gue aja Syai”
Aku jadi bingung, aku terdiam sejenak tak tahu mahu berkata apa, aku hanya memandang wajah Hendra aja saat itu.
“Mana mungkin aku tinggal bersama kamu Hen, kedudukan kita seperti langit dan bumi”
“Maksud elo apa?”
“Hen kamu itu orang kaya, aku ini miskin, mana bisa Hen”
“Elo jangan pikir yang gue ini mata duitan ya Syai, gue gak butuh harta karna gue udah ada itu semua, gue juga gak milih teman karna dia berharta, yang gue mau dari elo hanya lah persahabatan elo. Syai kalo elo sayang ama gue please terima permintaan gue, pleaseee, pleaseee Syai, gue terasa kesepian kalo elo gak ada Syai, gue terhibur jika elo di samping gue, lagian gue udah ketagihan ama body elo itu, pantat elo bisa buat gue gila tau”
“Dasar kamu” aku cubit perutnya itu, lalu Hendra menjerit lirih. Dalam kesedihan tadi kami sempat tertawa kecil. Hendra menolong aku mengemas pakaian dan barang-barang ku masuk ke dalam tas, sewaktu mengemas ngemas dia ternampak passpor ku dan membaca isinya, ketahuan umurku 22 karena selama ini aku bilang padanya umur ku baru 20 tahun. Baju seluar ku tidak banyak jadi kemuatan jika ditaruh ke dalam pannier motor Hendra. Seusai membayar uang sewa untuk bulan Nopember aku bilang pada Tuan kamar Mr Williamson yang aku sudah berpindah ke tempat lain, dia mengagguk mengerti.
Sudah hampir 2 bulan aku menginap bersama Hendra dan kami sangat senang sekali dengan perhubungan ini. Kami ke mana mana selalu berdua, kami seperti sudah tak dapat dipisahkan. Ujung tahun Universiti mengadakan libur seminggu, Hendra diarahkan ayahnya agar megikutnya ke Newyork karena ayahnya itu ingin mengenalkan dia kepada biznis partnernya di sana dan dia juga ada acara keluarganya di sana. Hendra harus keluar kota untuk beberapa hari, akan terasa sunyi lah hari hari ku tanpa Hendra kata hatiku. Hendra meyakinkan ku begitu rapat yang di Newyork bubar dia akan langsung kembali ke Los Angeles. Pagi itu aku menghantar Hendra ke Bandara Los Angeles International Airport, aku menghantarnya sampai ke pintu keberangkatan, Aku menciumnya sebelum dia pergi, sebelum dia pergi Hendra memesan padaku untuk menjaga rumah dan motor BMW kesayangannya, aku menunjukkan jempolku tanda ditanggung beres. Setelah dia memasuki pesawat aku pun pulang ke kondo Hendra.
Jam di dinding menunjukkan sudah pukul 18:45, dari pagi sampai ke sore aku keseorangan, aku mulai rasa bete lalu aku bersiap siap mengenakan pakaian cantik yang Hendra belikan aku. Niat hatiku mahu ke downtown sekadar jalan jalan dan cuci mata. Dipakir sebelum meluncurkan motor BMW Hendra aku menyimak GPS untuk melihat senarai tempat tempat hiburan, aku ternampak ada satu Gay Pub lalu aku menekannya dan aku ikut arahan GPS kesana. Gay Pub itu ternyata sungguh meriah sekali ada bermacam macam orang dari yang putih sampai ke hitam, coklat, kuning, orang biru, orang kelabu dan macam macam lah. Banyak orang sedang menari nari, minum, bercumbuan dan sebagainya. Aku memesan segelas Vodkha Redbull untuk sekadar minum minum aja, soalnya Hendra lagi tidak ada jadi aku takut kalau mabuk berat nanti aku tak bisa mengawal diri ku, selalunya kalau aku mabuk berat Hendra yang menguruskan. Sedang aku minum aku terlihat sesosok tubuh yang aku kenal dari Universiti ku, ohh itu si anak Vietnam atau Philippine yang aku sangkakan selama ini. Aku terus mendekatinya dia kelihatan seorang saja tanpa teman. Lalu aku pun menuju ke arahnya yang disebelah ujung bar counter.
“Hi bro you remember me” kata ku ingin memulakan percakapan
“Hey you from the University right?”
“Yeah bro you are right”
“I am Irwan” dia menghulurkan tangannya untuk berjabat, aku terus sambut tangannya dan aku tak lepaskan dulu
“You Irwan?” Tanya ku kembali dengan nada mahukan kepastian
“Yeah, I am Irwan anything wrong?”
“Ohh nothing, I am Syaiful”
“You Syaiful?” dia pula tanya aku balik dengan nada ingin kepastian juga
“Yeah I am Syaiful anything wrong?”
“Ohh nothing, what a nice name u have”
“Ooh thank you Wan I did’nt know that”
kami saling berpandangan dan tersenyum senyum. Lalu ku tanya dia lagi
“Where you from Wan?”
“Im from Malaysia”
“What about you?”
“Singapore”
Selepas obrolan pertama aku ini dengan Irwan maka jelas lah Irwan itu orang Melayu dari Malaysia bukannya Vietnam atau Philippine seperti yang aku sangkakan. Karena aku bertemu dia di Gay Pub maka aku tak perlu lagi harus pikir pikir sama ada Irwan ini suka sama cowok atau tidak, lelaki biasa buat apa dia mahu datang ke Gay Pub pikir ku. Sudah 4 gelas Vodkha Redbull aku reguk dan mood aku untuk bercakap cakap sudah memuncak. Aku banyak berbicara dengan Irwan dan dari situ aku tahu yang dia pun tinggalnya sendiri di apartment keluarganya yang lebih kurang 10km dari Universiti, dia selalu ke Gay Pub untuk mencari hiburan atau teman karena kesepian, tapi dia kata yang dia selalu tidak ketemu dengan pasangan yang dia berkenan. Irwan kelihatan sungguh menawan padaku pada malam itu dan aku sungguh bernafsu melihatnya. Irwan asyik juga melihatku aku perhatikan. Aku coba memesan segelas lagi Vodkha Redbull tetapi di halang Irwan, ternyata dia juga memberi perhatian kepada ku, Irwan bilang dia bimbang kalau aku mabuk berat nanti bisa di copet atau di rampok dengan orang orang bejat. Aku coba menggoda Irwan, aku bilang padanya kalau mabuk berat masih tidak apa karena besok pun sudah hilang tapi kalau mabuk kepayang itu susah mahu hilang malah bisa jadi senewen nanti. Aku bilang dia yang aku sudah mula mabuk kepayang melihat wajahnya yang handsome itu. Dia tersenyum nakal campur manis dan aku memang tak boleh tahan melihat dia malam itu. Acara pada malam itu semakin hangat dengan persembahan model bugil dan bermacam macam lah. Satu ketika itu aku rasa Irwan sudah tak boleh tahan dengan ku, dia berdiri dihadapan ku, kami saling berpandangan lalu dia terus merangkul kuduk ku lalu dia melumat habis bibirku yang menggairahkan itu. Huuh aku tersedak sedak dibuatnya, Irwan sudah bergelora dengan nafsu aku lihat, aku sempat meremas pantat Irwan yang lumayan seksi itu. Karena sudah tidak tertahan akan gelora nafsunya Irwan mengajak aku pulang saat itu juga.
“Syai kau nak bermalam dirumah aku tak?
“Rumah kamu dimana?” Tanya ku
“Engkau ikut aja lah” dengan sigap kami berdua pun menuju ke tempat pakir, bila dia ternampak motor yang aku kendara lalu dia berkata
“Ohh ini motor engkau ya, aku selalu nampak di parkir Universiti tapi aku tak pernah terlihat siapa orang yang punya motor ni”
Aku iya kan aja lah yang motor Hendra ini milik ku. Sesampai di apartment Irwan yang tak kalah mewah dari apartment Hendra itu Irwan terus menyerang dan mengerjakan aku, aku paham karena Irwan sudah terlalu lama kesepian dan kasihan dia nafsunya pun sudah lama tidak terlampiaskan, tapi tak apalah itu semua karena aku pun sudah mula sayang dengan Irwan. Malam itu Irwan muncrat sampai 4 kali, boleh tahan juga ini anak pikir ku, Irwan pun sungguh berpengalaman juga dalam permainan sek karena dia juga sudah biasa bermain sek dengan pacar cewek mahupun cowoknya sewaktu dia bersekolah di Kuala Lumpur cuma aku seorang sahaja yang masih hijau dalam perkara ini. Irwan juga tak kurang binalnya dari Hendra bila di atas ranjang, aku terpikir gimana ya kalau mereka berdua di satu ranjang dan aku di tengah tengah…huhh bisa repot aku nanti. Malam itu Hp ku aku tidak pedulikan, Hendra menelepon ku berkali kali dari Newyork tapi aku tidak menjawabnya karena aku lagi sibuk ML bersama Irwan. Irwan sempat bertanya padaku siapa yang dari tadi asyik mencoba menelepon aku, aku bilang mungkin orang tua ku, kan Singapura sekarang lagi siang hari kataku padanya. Malam itu Irwan sungguh puas sekali, aku layan dia dengan penuh kasih sayang dan memberikannya nikmat seperti apa yang Hendra buat pada ku. Selepas ML kami tidur dengan pulas aku tersadar arloji ku sudah menunjukkan pukul 1000 pagi, karena hari itu tidak ada kuliah dan Hendra pun lagi 3 hari akan pulang maka aku putuskan untuk bersama Irwan sampai Hendra pulang. Irwan tidak tahu langsung akan hubungan aku dengan Hendra, 3 hari di rumah Irwan kami banyak menghabiskan masa bersama seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk asmara. Aku perhatikan Irwan sungguh bahagia sekali selepas ML kami yang pertama. Irwan meminta aku untuk menjadi kekasihnya, aku tidak menolak langsung karena Irwan huhh sungguh mempersonakan juga. Sudah ada dua kekasih ni aku, gimana ya kata ku dalam hati. Ahh tak apa lah jangan runsing kata hati ku, berselingkuh aja la jawabnya.
Pagi hari Jumaat itu aku harus ke Bandara untuk menjemput Hendra pulang, aku minta pamitan dulu dari Irwan, Irwan kelihatan seperti sedih ketika aku mahu pergi, aku bilang aku ada urusan sedikit, nanti besok atau lusa kita bisa bertemu lagi, nomor Hp ku sudah aku berikan pada Irwan jadi kalau mahu bertemu kita bisa telefon aja.
Sudah lima hari aku tidak bertemu dengan Irwan dan aku menjadi sedikit gelisah, dia selalu menelefon ku untuk ajak bertemu tapi aku bimbang akan ketahuan Hendra, bisa berabe ni nanti pikir ku. Jadi aku bohong dengan Irwan yang orang tua ku lagi di sini untuk melihat aku dan aku tak dapat bertemunya dulu. Dia paham tapi aku dapat merasakan kehampaan dari nada suaranya. Aku selalu berusaha mencari jalan bagaimana untuk aku bertemu Irwan tapi bagaimana ya, kalau aku mahu keluar pasti Hendra akan ikut juga, ini lah susahnya orang ada dua kekasih. Aku kasihankan Irwan karena aku tahu yang dia itu keseorangan. Satu sore selapas kuliah Hendra bilang aku bahwa malam itu dia akan bertemu sepupunya yang lagi transit di Bandara, jadi malamnya dia tak ada dirumah dan dia suruh aku makan sendiri karena dia akan makan dengan sepupunya. Dalam hatiku ini lah peluang, aku langsung telepon Irwan untuk bertemu dan menjemput aku, ya dia setuju dan kita pergi ke Gay Pub yang tempoh hari kita berkenalan. Irwan sampai ke apartment ku atau lebih tepat lagi Hendra tepat pada waktunya, dia suruh aku yang ngendara motor Balackbird nya karena dia mahu dibelakangku peluk aku habis habisan karena terlalu rindu katanya. Aku ya tidak ada masalah untuk itu. Di Gay Pub sudah lebih kurang pukul 20:15, aku hanya memesan Vodkha Redbull kegemaranku, Irwan memilih Burbon Coke, kami hanya duduk di bangku di luar diskotik karena tempat itu agak nyaman.
Kami bercumbu asmara dan Irwan karena sudah terlalu kangen dengan aku dia asyik menciumi aku terus menerus. Dalam kegairahan aku dan Irwan yang asyik berciuman Perancis aku tak sadar ada sesosok tubuh datang ke arah kami lalu dia berdiri betul betul di hadapan bangku yang kami duduk. Aku coba melirik untuk melihat siapa orang itu, alangkah terperanjatnya aku bila melihat orang itu tiada lain adalah Hendra, aku terpucat pasi seperti terlihat hantu dan terdiam tak tahu mahu buat apa, perasaanku pada waktu itu sungguh terkejut, bimbang, takut, malu semua bercampur aduk menjadi satu. Sempat juga aku terpikir buat apa Hendra ke mari katanya mahu berjumpa dengan sepupunya yang lagi transit di Bandara. Hendra dengan tidak membuang masa terus menghantam perut ku dengan kuat.
“Bajingan elo!!…Gedebukkkk!!”
“Aaaaduuhhhh!!” …AAaahhhhhh”.. aku mengerang kesakitan, Irwan yang sedikit terkejut melihatkan kejadian itu dia langsung bangun hendak melontarkan kepalan tangannya ke muka Hendra tapi dia terhenti.
“Ehh kamu kan dari Universiti, mengapa kamu pukul Syaiful?”
“Elo tau gak yang elo lagi asyik cium ciuman ini pacar gue Melayu brengset elo!”
“Oooiii Jawa ketoprak! cakap tu biar beralas sikit ya jangan seenak mulut kamu ya panggil orang brengset!!”
“Syaiful! betul si ketoprak ni boyfriend engkau?” aku terdiam aja karena masih terkejut dan menahan sakit, aku betul betul tak tahu apa yang harus aku bicara atau lakukan , melihat aku diam membisu Irwan megepal tangan kanannya sembari dia berkata
“penipu!, ambil ini!”
“Gedebukkkk!!”
“Aaaaduuhhhh”…”Aaaaahhh” aku di kasi lagi satu dengan kuat diperut juga tapi kali ini dari Irwan, aku mengerang kesakitan, sakit yang tadi di kasi Hendra belum hilang malah dapat lagi satu dari Irwan. Aku sampai meringkuk menahan sakit dan senak diperutku, Hendra dan Irwan bertengkar dan bersilatan, aku yang lagi menahan sakit sempat tertegun melihatkan permainan silat mereka, boleh tahan cukup tangkas sekali dua dua sama hebat. Aku rasa sedih karena aku tak dapat meleraikan mereka karena aku sendiri harus menahan senak di perut ku yang bukan kepalang, keringat dingin mula keluar dari dahi ku dan aku mula merasakan badan ku seperti tidak enak, Hendra dan Irwan saling berpandangan mereka berdua seperti kebingungan, Hendra asyik melihat Irwan dan Irwan asyik melihat aku dan Hendra, Hendra terkejut melihat pria setampan dan sejantan Irwan bisa suka sama cowok, Irwan juga tidak menyangka cowok seganteng dan sejantan Hendra pun bisa suka sama lelaki. Hendra dan Irwan saling kebingungan dan seperti tidak percaya akan peristiwa yang serba mengejutkan ini. Aku terbaring miring diatas bangku dan kaki ku di lantai. Hendra mengatur napasnya, dia masih belum berpuas hati lalu mengenggam kolor di baju ku dan menyandarkan aku disandaran bangku, ujung kakinya di pijakan di depan selangkangan ku di pinggir tempat duduk bangku dan dengan menggunakan lututnya dia menekankannya di antara ulu hati dan perut ku dengan kuat sekali sedalam yang dia bisa, ternyata anak mahir bersilat ini tahu bagaimana hendak menyiksa orang secara maksimal. Aaduuh aku sampai susah bernapas dan harus menahan sakit juga, tanganku memegang paha Hendra dengan wajahku yang berkerut-kerut menahan sakit sembari aku meminta ampun dan merayu padanya. Irwan hanya memerhatikan aja tetapi dia kelihatan seperti tidak tega melihat aku tersiksa begitu, yang aku heran aku seperti tidak berdaya langsung untuk melawan serangan Hendra, kalau dengan orang lain sudah pasti tempat itu menjadi medan pertempuran, karena aku ini ahli Tae Kwan Do bersabuk hitam, mungkin karena aku sudah terhutang budi dan body yang terlalu banyak pada Hendra sampai aku menyerah aja pada Hendra. Hendra berhenti menyiksa aku bila Irwan medorongnya kebelakang.
“Oooi bregset engkau nak bunuh Syaiful ke”
Hendra termundur beberapa tapak kebelakang akibat pundaknya di dorong Irwan, Hendra memandang Irwan dengan pandangan yang tajam seperti mahu menelan Irwan hidup hidup, Irwan dengan posisinya yang seperti mahu berpencak silat sudah bersiap siaga untuk menghadapi sebarang kemungkinan dari Hendra. Aku berasa lega sedikit selepas terlepas dari siksaan Hendra, Irwan ternyata ingin membela ku walaupun aku tahu yang dia itu geram padaku. Hendra kemudian menggenggam kolor bajuku lagi sembari dikepalkan tangan kanannya lalu aku memohon kepadanya agar aku jangan di apa apakannya lagi karena aku tak kuat menahan sakit yang diberinya itu kataku.
“Hen cukup Hen aku tak kuat menahan sakit..Maafkan aku Hendra, Hendra tolong jangan buat aku begini”
“Ohhh elo tau sakit ya, heyy Syai elo tau gak sakit di perut elo itu tidak seberapa kalo dibandingin dengan sakit hati ku ini” lalu Hendra menguatkan genggamannya itu seperti orang geram.
Irwan yang masih geram ikut sama mengenggam kolor baju ku juga bersebelahan Hendra, dia pun ikutan mengepal tangan kanannya seperti sudah siap siaga mahu menyerang aku lagi. Aku terdiam seribu bahasa tak tahu mahu bicara apa dan memang aku tahu aku yang bersalah dan aku tidak mahu menegangkan lagi keadaan, aku hanya memandang kepada wajah tampan Hendra dan Irwan dengan tampangku yang teramat memelas sembari tanganku memegang lengan mereka. Melihatkan wajah ku yang teramat memelas itu mereka berdua melepaskan aku dari genggaman lalu mereka duduk disisi kanan dan kiri ku dan aku di apit di tengah, mereka seperti kebingungan dengan pikiran mereka masing masing. Aku memang jagoan kalau disuruh buat muka yang memelas, aku merasa lega sedikit dan mencoba mengatur napas ku yang tidak keruan, dengan menahan sakit aku mula berkata kepada mereka
“Hendra, Irwan, terlebih dulu aku mau minta maaf..ssshh…aku tak berniat langsung untuk menipu kamu berdua…ahhh.. aku sayang dan cinta dengan kamu berdua dan aku tak mau kehilangan kamu berdua..di kota besar ini yang dari Nusantara hanya kita bertiga aja, sshhh…mengapa kita harus bertengkar dan bermusuhan. Kan lebih baik kalau permusuhan itu kita jadikan ia sebagai persahabatan dan kasih sayang, tak ada salahnya kalau kita bertiga berbagi kasih antara kita kan. Kita ini di rantauan kalau kita bisa berbagi kasih kita boleh penuhi hari hari kita dengan keceriaan dan kebahagiaan, kita bisa menjaga antara satu sama lain, kita di sini cuma 4 tahun aja, mengapa tidak 4 tahun kita di sini, susah dan senang kita mengarunginya bersama…sshhh”
Kami bertiga terdiam membisu dan saling berpandangan, tak lama kemudian Hendra melingkarkan tanganya ke pundakku di ikuti Irwan dengan ragu ragu, tapi bila Hendra memberikan senyuman termanisnya kepada Irwan, Irwan langsung melingkari pundakku dengan erat, Hendra juga mengeratkan lingkarannya di pundakku dan kami saling bersenyuman dan berpandangan. Aku menyuruh Hendra dan Irwan bersalaman dan bermaafan karena tadi mereka sudah bertengkar dan bersilatan. Hendra dan Irwan bersalaman dan bermaafan di antara mereka.
“Irwan gue minta maaf ni karena gue udah bilang elo brengset tadi”
“Aku begitu juga Hendra aku minta maaf ya kalau tadi aku panggil engkau ketoprak”
Melihatkan itu aku menjadi sungguh bahagia sekali lalu aku mengatakan yang aku sayang sekali kepada mereka, selepas itu aku merangkul kuduk mereka dan aku dekatkan wajah mereka ke wajahku, selepas itu kita saling berciuman Perancis, huuhh itu lah ciuman yang tersangat indah yang sampai hari ini tak dapat aku melupakan. Kami asyik berciuman sampai banyak orang yang berdiri menyaksikan adegan panas kami. Kami terhenti bila semakin ramai orang yang melihat di tambah dengan tepuk sorak. Malam itu walaupun aku setengah mati dikerjakan Hendra dengan Irwan tapi aku tetap orang yang paling berbahagia sekali karena malam itu Hendra dan Irwan menjadi kekasih ku, aku dan Hendra menjadi kekasih Irwan dan aku dan Irwan menjadi kekasih Hendra.
Kami terus ke pakiran dengan aku berjalan tergontai gontai karena menahan sakit. Melihatkan aku begitu Irwan dan Hendra mengapit aku lalu mereka menyuruh aku melingkarkan tangan ku ke pundak mereka. Dalam perjalanan ke pakir Hendra berkata
“Syai Syai kalo elo berterus terang dari dulu kan elo gak jadi begini” Irwan pun menambah
“Syai ini amaran terakhir kalau engkau berani berselingkuh lagi nanti aku dengan Hendra akan kasi engkau yang lebih dahsyat dari ini biar engkau tau rasa, kalau engkau berani kau cuba lah berselingkuh lagi”
Aku berdiam aja, iya lah mahu bicara apa lagi kan, melihatkan aku berdiam terusan lalu Hendra dan Irwan dengan memandang ke arahku serempak mereka berkata
“Syai kau dengar tak” “Syai elo dengar gak” (serempak)
“Iya iya aku dengar” jawab ku lirih lalu kita bertiga terus tertawa tawa menuju ke pakiran.
Peristiwa perkenalan Hendra dengan Irwan sangat luar biasa bila ku imbas kembali, luar biasa karena ia ada kenangan pahit dan manis, pahit untuk dikenang karena aku menjadi sasaran, hampir setengah mati aku dikerjakan Hendra dan Irwan pada malam itu. Hendra dan Irwan sempat bersilat. Terlalu manis untuk dilupakan karena di saat itu juga Hendra aku dan Irwan menjadi akrab dan kita menjadi kekasih bersama. Aku pernah bertanya Hendra mengapa dia ada di kawasan itu pada malam itu, dia menerangkan selepas bertemu sepupunya ketika di pakiran Bandara dia menyimak GPS dan terlihat Gay Pub yang aku dan Irwan pernah pergi di dalam memori GPSnya itu. Karena muskil dia pun mengambil keputusan untuk melihat tempat itu dengan niat ujung minggu untuk pergi ke sana bersama aku. Ketika dia di sana sedang memantau mantau tempat itu dengan tidak sengaja dia ternampak aku sedang bermadu asmara dengan Irwan, itu yang membuat dia menjadi gila karena aku tidak mengajak dia bergabung sekali. Kalau aku mengajak mungkin aku tidak merasa hantamannya malam itu katanya. Kami selalu tertawa tawa apabila mengenangkan peristiwa yang mengejutkan itu.
Malam itu kami bermalam di rumah Irwan atas permintaannya karena dia sudah lama kesepian dan dia ingin sekali merasakan kemeriahan di rumahnya, sebelum ke rumah Irwan aku dan Hendra pulang sebentar untuk mengambil sedikit pakaian karena kami bercadang untuk bermalam di rumah Irwan untuk beberapa hari. Rumah Irwan tidak jauh lebih kurang 12km dari rumah Hendra. Rumah Irwan terletak di lantai 52 menghadap ke Lautan Pasifik. Rumah Irwan kecil sedikit tidak sebesar rumah Hendra, cuma ada 3 kamar aja. Waktu malam rumahnya berangin sekali sehingga tak perlu nyalakan kipas atau Aircon, rumahnya berdekatan dengan pusat kotaraya, Bandara dan segalanya sama seperti rumah Hendra juga. Kami sudah sepakat mulai saat itu kami akan menginap di rumah Irwan seminggu dan Irwan akan menginap di rumah Hendra seminggu silih berganti sampai kami habis kuliah. Sebelum meneruskan perjalanan ke rumah Irwan kami sempat ke 7Eleven untuk membeli sebotol Vodkha dan sekarton Redbull untuk pesta kami nanti malam. Malam itu kami berminum minuman tapi tak sampai mabuk berat. Sungguh seronok sekali tak perlu pergi ke diskotik. kami mengobrol sambil menonton TV sampai akhirnya Irwan mengajak memutar video yang di belinya kemarin. Seperti yang sudah ku duga, ternyata itu film biru dan aku sangat terangsang melihatnya. Menyaksikan dua orang pria asia mengerjakan seorang cewek membuat adikku di dalam seluar mulai tersadar. Di sebelah aku melihat Irwan mengusap-usap dan memijat penisnya yang membengkak di balik celananya. Aku coba meliriknya dan rupanya dia juga melihat ke arahku sambil melemparkan senyuman.

Aku masukan tanganku kedalam celana untuk membetulkan penisku yang terasa sakit karena celana jeansku agak ketat. Irwan yang duduk di sampingku tiba-tiba mendekat dan mulai mengusap-usap punggungku, membuat aku semakin horny. Aku diam saja dan menikmati sentuhannya. Melihat reaksiku, Irwan bergeser ke belakangku dan mulai mencumbuiku. Tangannya membelai kudukku dan menghembuskan nafas hangatnya di leherku. Aku memejamkan mata menikmati gairah yang mulai membakar diriku. Irwan menelusupkan tangan kirinya kedalam bajuku dan merambah dadaku dengan kelincahan jemarinya sementara tangan kanannya mendekap pundakku dan membawaku dalam pelukannya. Tangannya yang hangat merambah dadaku dan meremasnya dengan lembut. Jemarinya mengusap kulit tubuhku hingga terasa geli yang menyenangkan. Aku terlena dalam cumbuannya. Dia mulai melumat dan menjilati leherku. Aku mendesah dan menggeliat dalam pelukannya yang hangat.

“Euhh..” Desisku saat jemari Irwan bermain di putingku.

Aku seperti kena setrum. Kepalaku mendongak sambil mataku terpejam keenakan. Tanpa sadar jemariku merayap di celananya sampai kutemukan batang hangat yang sudah keras dan berdenyut. Kuremas dan kupijat dengan gemas sambil aku mendesah oleh kecupan dan permainan tangannya di puting dadaku. Dengan mata terpejam aku menurut saja saat dia melepas baju yang ku pakai. Aku lihat Hendra memandangi kami berdua dengan nafsu yang membara, dia membiarkan kami dahulu.

Aku hanya menggeliat sambil mendesah ketika Irwan menjilat dan mengigiti pundak dan punggungku yang terbuka di hadapannya. Sembari mengerjai belakangku, tangannya dengan lihai merangsang titik-titik peka di dadaku. Putaran dan usapannya di putingku menimbulkan getaran yang menjalar sampai ke zakarku. Kehangatan nafasnya dan gelitik basah lidahnya membuatku mengigil dalam gairah. Panas dingin badanku dibuatnya. Aku berbalik badan. Dan kini kami saling berhadapan. Aku rengkuh Irwan dalam pelukanku dan kudekatkan mukaku untuk mencium bibirnya.

Dengan bernafsu aku melumat-lumat bibir Irwan yang cukup seksi dan menggairahkan untuk di kulum. Sambil kulumat bibirnya, aku gigiti dan kuhisap cairan mulutnya. Tanganku membelai sembari sesekali meremas rambutnya. Kami berciuman bagaikan orang kelaparan. Sampai menimbulkan bunyi kecipak yang menambah rangsangan. Tangan Irwan tidak tinggal diam. Mulai meremas-remas batang kemaluanku yang sudah berdiri dari tadi. Ciuman kami terlepas dan aku mendesah di dekat telinganya. Bibirku melumat batang lehernya sambil kudekap kepalanya erat-erat.
Irwan membiarkan sejenak aku menikmati lehernya sebelum kembali di bimbingnya aku untuk kembali berciuman. Setelah beberapa saat berciuman, Irwan menekan tubuhku untuk berbaring. Direntangkannya tanganku sehingga dadaku terbuka di hadapannya. Lalu di lepaskannya celana jeansku hingga tinggal celana dalam sahaja di badanku. Sambil matanya menatapku yang terbaring pasrah, tangannya mengelus-elus kedua pahaku. Ku tahan nafasku yang mulai memburu. Irwan juga membuka baju lengan panjangnya. Ketika dia membuka kancing celana jeansnya aku melihat gundukan yang memehuni celana dalam putihnya seakan berontak mau keluar. Saat Irwan menindihku, aku menyambut dengan dekapan dan aku remas-remas punggungnya dengan gemas. Di serangnya leher dan bibirku dengan ciuman mautya sambil badannya bergerak menekan tubuhku sehingga zakar kami yang sudah mengeras saling menekan.

Aku peluk tubuhnya yang hangat. aku dekap dan kunikmati kehalusan kulitnya seakan enggan aku lepaskan lagi. Tiba-tiba Irwan melepaskan diri dari pelukanku dan duduk menghadapku. Di angkatnya paha kiriku, di belainya serta di gigitnya lututku dengan mesra. Aku menggelinjang karena rangsangan yang semakin menjadi, dan tangannya terus naik sampai ke pangkal pahaku. Di sana dia meremas dengan lembut buah zakarku. Terasa kehangatan yang nikmat. Aku pejamkan mata menikmati sentuhan tangannya yang mulai merambah batang pelirku.

“Eeeuuuhhh, Irwan.”Aku menggeliat manja saat dia juga meraba dan mengusap dadaku.

Putingku di pilin-pilinnya sehingga nikmatnya menjalar sampai ke batang penisku. Irwan kemudian mengeluarkan penisku dari celana dalam dan mulai mengocoknya sambil di remas-remas. Di usapnya kepala zakarku yang licin mengkilat hingga aku menggelinjang geli. Dia mendekatkan mulutnya dan menjilati bagian kepala batangku. Kedua telurku di genggamnya dengan tangannya yang hangat dan di tariknya kebawah sehingga zakarku yang keras makin tegak menjulang dan semakin kekar.

Aku mengejang menahan kenikmatan saat kepala zakarku di kulumnya. Kehangatan rongga mulut dan jilatan lidahnya yang menghisap kepala penisku membuatku tak sadar mengigit bibir bawahku sambil tanganku meremas-remas rambut Irwan yang asyik dengan jilatannya. Dia mulai mengeluar masukan kepala sampai ke leher zakarku sambil menghisapnya. Lidahnya bermain di bawah kepalanya membuatku terkejang-kejang.

Sesekali dia melepaskan kulumannya dan menjilati zakarku yang uratnya bermunculan dan digigitinya dengan lembut. Tangannya meremas pantatku dan tangan yang lain bermain mengusap putingku. Hendra mulai terangsang melihat perbuatan kami. Dia bangkit dari tempatnya dan duduk di sampingku yang sedang kelojotan merasakan kenikmatan zakarku yang di hisap kulum oleh Irwan.

Tanpa membuang waktu lagi Hendra melepaskan pakaiannya sampai tak ada sehelai benang pun di tubuhnya. zakarnya sudah berdiri dengan ukuran kepalanya yang termasuk cukup besar bila di bandingkan dengan batangnya. Dan kepala itu sudah bengkak kemerahan. Saat dia bertelut di dekatku aku raih zakarnya dan aku remas kepalanya. Buah pelirnya yang besar bergantungan membuatku bernafsu untuk mengulumnya. Meski badannya kurus, barang Hendra termasuk besar.

Semakin aku remas, zakarnya semakin keras dan panas. Tiba-tiba Hendra bangkit dan mengambil bantal sofa. Diganjalnya kepalaku dan dia berlutut diantara ketiakku. Diangkatnya kepalaku mendekat ke penisnya sambil dia menekan pantatnya. Kusambut kepala penisnya dengan mulutku yang kubasahi dengan ludah yang banyak untuk pelicin. Supaya zakarnya dapat keluar-masuk dengan lancar di mulutku.

Aku lumat kepala zakarnya yang merah mengkilat. Aku pulas dengan lidahku yang kulumuri dengan ludah. Makin lama mulutku makin dalam menelan zakarnya sampai seluruh batangnya basah dengan liurku. Aku ketatkan kulumanku dan aku keluarkan zakarnya dengan hisapan yang kuat. Hendra meringis menahan geli. Di tekannya pantatnya lebih dalam lagi. Aku ulangi hal itu berkali kali sampai Hendra mendesis-desis nikmat.

Aku julurkan lidahku menyapu saluran bawah zakarnya sembari ku lakukan gerakan menelan dan melumat. Hendra mengeluar masukan zakarnya dengan lancar dalam mulutku dan sudah dapat mengatur irama gerakannya. Kemudian Hendra meluruskan kedua kakinya dan menahan badannya dengan kedua tangannya seperti posisi sedang “push up”. Saat dia menaik-turunkan pantatnya, aku menahan pahanya dengan kedua tanganku supaya zakarnya tidak menerobos terlalu dalam di kerongkonganku.

Aku membantu irama gerakan Hendra dengan tanganku. Sedangkan aku sendiri setengah mati menahan kenikmatan yang diberikan Irwan dengan permainan mulutnya. Batang zakar Hendra terasa hangat memenuhi rongga mulutku. Aku lumati seperti anak kecil melumati ice cream dan aku telan cairan ludahku yang bercampur dengan air mazinya. Setiap kali penisnya menelusup aku buka lebar rongga mulutku agar batang itu dapat masuk sedalam-dalamnya dan kemudian aku ketatkan kulumanku dan kuhisap kuat saat dia menarik keluar zakarnya.

Dan kepalanya pelirnya yang besar akan tertahan lalu aku sedot sampai Hendra menggelinjang. Saat melumat batang penisnya lidahku merasakan urat-urat yang menonjol di permukaannya. Mungkin merasa penat dengan posisinya, Hendra lalu bangkit dari atas tubuhku dan kembali duduk di sampingku. Karena tidak lagi di sibukan dengan Hendra, kuluman dan sedotan Irwan di zakarku kembali membuat aku menggeliat, Hendra merentangkan kedua tanganku dengan menggenggam erat pergelangan tanganku, aku sambut dengan mesra bibirnya saat dia menciumku.

Kupejamkan mataku untuk menikmati. Aku paling suka dengan ciuman Hendra. Dia pandai membuat perlawanan bibirku menjadi penyerahan. Gigitan, kuluman dan jilatan lidahnya pada mulutku membuat aku lebih memilih diam menikmati sambil sesekali aku balas melumat. Dari bibirku dia mulai merambati muka dan leherku dengan jilatan dan gigitan kecil. Bagian belakang telingaku di jilatinya dan cupingku di gigitinya.

Baru beberapa bulan bergaul denganku, Hendra sudah tahu cara untuk memuaskanku dan membangkitkan gairahku. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa selain mendesah sambil menggelinjang menahan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. Sambil terpejam-pejam aku mendongak ketika leherku disedoti Hendra dengan mesra. Dan Irwan pun semakin bersemangat dengan aksinya di bagian bawah saat melihat Hendra menggarap bagian atasku. Seluruh batang zakarku di kulumnya hingga kehangatan mulutnya terasa nyaman dan menyelimuti batang zakarku yang keras seperti kayu.

Dan saat dia menarik keluar sambil menghisap kepala zakarku, pantatku sampai ikut terangkat karena nikmat. Aku menggeliat, mengejang dan aku buka pahaku lebih lebar saat Irwan mengulum kedua telurku bergantian. Zakarku yang makin berdenyut terasa geli dengan kocokan tangan Irwan yang sudah basah oleh air liurnya. Dia mengocok naik-turun dengan tangannya yang licin sehingga rasanya nikmat sekali. Melihat aku tidak tentu arah oleh Irwan, Hendra menambahi kenikmatanku dengan menghisap puting dadaku bergantian.

“Auch, Ough..” Aku mengejang dan ingin meronta.

Tetapi kedua pergelangan tanganku digenggam erat oleh Hendra, aku tidak dapat buat apa apa selain menyerah. Rasanya seperti nyawaku ingin tercabut dari badanku. Perpaduan antara geli dan nikmat membuatku seperti cacing kepanasan. Seumur hidup baru kali ini aku merasakan nikmatnya di cumbui lebih dari satu orang. Semakin liar aku menggeliat ketika lidah Hendra juga menari menggelitik pinggang dan sekitar perutku. Bahkan ketiakku yang tak begitu banyak bulu juga dia serang dengan ciumannya. Sambil bernafas tersengal-sengal aku terus meliuk-liuk keenakan. Sementara itu Irwan juga menahan kedua pahaku supaya tetap terbuka sambil terus mengocok zakarku keluar-masuk dalam rongga mulutnya.

Dia benamkan zakarku dalam-dalam sambil di hisapnya. Entah teknik apa yang dia pakai sehingga aku merasa begitu nikmat. Kehangatan dan usapan tangannya yang merambah pahaku semakin menambah gairahku yang membara. Tak tahan di serang atas-bawah oleh dua orang yang sudah berpengalaman, membuat buah pelirku terasa panas dan berat. Zakarku juga semakin keras dan tegang. Tubuhku mengejang dan pantatku terangkat beberapa kali saat ku coba menahan sesuatu yang hendak meledak keluar dari dalam tubuhku.

“Ooouuuuhhh.. Irwan, Hendra aku mau keluar..” Pekikku.

Melihat aku hendak mencapai klimaks, Irwan dan Hendra semakin giat dengan aksinya. Irwan menancapkan zakarku dalam-dalam sambil di lumatnya kuat-kuat di sertai hisapan. Dan Hendra menjilat-jilat kedua putingku seperti orang kelaparan.

“Aaaaaahhhhhhhh.. Sshhhhhhhh…..Aaaaaahhhhhhhh… Sshhhhhhhh..” Pekikku sambil menggelepar saat cairan kenikmatan itu muncrat keluar dari tubuhku.

Badanku seperti melayang dalam surga kenikmatan saat zakarku beberapa kali menembakan air mani kedalam mulut Irwan, Irwan menelannya semua seperti orang kebuluran tidak sedikit pun dia mensisakannya untuk Hendra. Melihat Irwan menelan air maniku Hendra menjadi begitu bernafsu sekali, dia terus mengaturkan posisiku seperti dog style, posisi ini dengan jelas memperlihatkan rekahan pantat ku yang seksi. Hendra tidak membuang masa dia meludah dan mengoles ludahnya di zakarnya dan lubang duburku dan perlahan lahan membenamkan zakarnya yang lumayan panjang itu sedalam dalamnya. “Aagghhhhh” aku mengerang sedikit karena terasa sakit pada penetrasi awal itu, Hendra membiarkan zakarnya dulu di dalam duburku dan bila aku sudah mantab dia terus mempompa duburku dengan bernafsu sekali, Irwan ke depan dan dia memasukan zakarnya ke mulutku dan aku megulum dan menyedotnya dengan gemas. Hendra dan Irwan mendesah kenikmatan sambil berpandangan dan mereka menjadi lebih bernafsu melihatkan aku di tengah tengah. Aku di tengah menjadi kewalahan menerima pompaan berganda dari Hendra dibelakang dan Irwan dimulutku. Sekitar 10 menit mempompoku Hendra sudah hendak mencapai klimaks, dia memegang pinggangku erat dan pompaanya menjadi semakin ganas. “Errgghhhhh… Errgghhhhh aku mau keluar Syai” lalu aku pun terasa denyutan yang kencang dari zakar Hendra berserta semburan cairan hangat masuk ke dalam duburku seperti tiada hentinya, Hendra mendesah panjang
“Aaaaaahhhhhhhh.. Sshhhhhhhh…..Aaaaaahhhhhhhh… Sshhhhhhhh” dia membenamkan zakarnya sedalam dalamnya ke duburku sambil pinggulku dipegang erat dan matanya tertutup menikmati kenikmatan yang susah hendak diterangkan melainkan mencobanya sendiri.
Aku menoleh ke belakang dan melihat Irwan pun sudah tidak sabar, dia sudah menunggu disisi Hendra yang ketika itu sedang menikmati sisa sisa orgasmenya sembari dia mengocok ngocok zakarnya. Begitu Hendra melepaskan zakarnya dari duburku Irwan langsung mengambil posisi dan terus menusuk duburku dengan agak mudah karena air mani Hendra masih di dalam duburku jadi Irwan tak perlu mengunakan pelicin. Dengan mendesah desah Irwan mempompa duburku dengan ganas sekali aku terikut termaju mundur dengan pompaannya itu. Sekitar 10 menit Irwan sudah hendak mencapai klimaks dan pompaannya menjadi semakin cepat. “Errgghhhhh… Errgghhhhh aku mau keluar ni Syai” lalu aku pun terasa denyutan yang kencang dari zakar Irwan berserta tembakan cairan hangat masuk ke dalam duburku sehingga ke perutku, Irwan mendesah panjang
“Aaaaaahhhhhhhh.. Sshhhhhhhh…..Aaaaaahhhhhhhh… Sshhhhhhhh” dia membenamkan zakarnya sedalam dalamnya ke duburku sambil pinggangku dipegang erat untuk mendapatkan kenikmatan maksimal. Duburku kebanjiran dengan air mani Hendra dan Irwan dan di saat Irwan melepaskan zakarnya, air mani dua kekasih ku ini mula mengalir keluar karena duburku tak dapat menampung air mani mereka yang lumayan banyak. Hendra yang dari tadi sudah terangsang lagi ketika melihat Irwan menduburi aku telah menunggu di samping Irwan. Begitu Irwan melepaskan zakarnya dari duburku dia terus mengatur aku ke posisi terlungkup, aku coba membalikkan diriku karena aku tak berapa suka kalau Hendra menduburi aku dalam posisi begini karena dalam posisi begini pompaannya ganas sekali. Aku tak sempat karena dia telah memegang tanganku dengan erat dan langsung menindih aku, zakarnya yang lumayan besar kali ini dengan mudah aja dia menusuknya ke duburku karena air maninya dan Irwan masih ada di dalam duburku berserta sisa sisanya mula mengalir keluar dari bibir duburku. Dengan berlutut, tangannya mendekap badanku dan dirangkulnya ke kudukku…adduuhh dalam posisi ini aku seperti terkunci dan tak boleh bergerak, dengan nafsu kudanya yang membara dia terus mempompa aku lagi,
“Aaaaaaaahhhhh Hendra pelan pelan…..aacccccchhhhh….mmmmmpphh…..eeeegggghhhhh” aku kewalahan melayani nafsu Hendra yang sedang bergelora itu, tapi tetap nikmat. Hendra terus mendesah desah menikmati duburku,
“Mmppphhhhh….Sshhhhhh….AAaaahhhhhhhh….Hssssssshhhhh”
pompaannya kali ini lagi kuat dari rondenya yang pertama, dia mempompa aku dengan diselang selikan membenam zakarnya sedalam mungkin dan didiamkan sesaat dua, lalu di pompanya lagi berkali kali lalu dibenamkan zakarnya sedalam dalam lagi sampai hampir 15 menit dia berbuat begini sampai
“Errgghhhhh… Errgghhhhh aku mau keluar ni Syai”
“Aaaaaahhhhhhhh.. Sshhhhhhhh…..Aaaaaahhhhhhhh… Sshhhhhhhh” dengan posisi aku begini denyutan zakar Hendra terasa begitu ketara berdenyut didalam duburku, air maninya keluar dengan banyak sampai yang terlebih awal dia dan Irwan keluarkan mengalir keluar walaupun zakarnya masih terbenam dalam karena duburku tak dapat menampungnya lagi. Sedang Hendra menikmati sisa sisa orgasmenya, aku melirik kebelakang, Irwan dengan setengah berdiri sedang menunggu gilirannya, dia dengan sabar menunggu Hendra menikmati sisa sisa orgasmenya yang terakhir. Aku dan Hendra dipenuhi keringat, aku dapat merasakan air mani Hendra yang bercampur air mani Irwan mengalir keluar dengan deras saat Hendra mancabut zakarnya keluar dari duburku. Air maninya Hendra dan Irwan sudah membasahi selangkanganku dan sprei ranjang Irwan. Hendra bangun dan menghempaskan dirinya disisi kananku, Irwan terus mengambil posisi sama seperti Hendra, aku terkunci lagi tak boleh bergerak, dengan posisi begini Irwan bebas mempompa aku dengan gaya apa aja yang dia mahu tanpa aku dapat menghalangnya. Irwan mempompa aku persis seperti Hendra dironde keduanya, waktu dipompanya duburku banyak air mani mereka mengalir keluar dari duburku, selepas lebih kurang 20 menit Irwan muncrat dalam duburku lagi, sampai meleh leleh sperma mereka mengalir keuar dari duburku, aku sudah tak berdaya lagi. Mereka pun tahu melihat aku terkulai layu di tengah ranjang, lalu Hendra berbisik lirih ke telingaku
“kita rihat dulu Syai, nanti kita sambung lagi ya soalnya gue masih belum kepuasan dengan pantat elo” aku hanya memandangi Hendra dengan senyuman aja, Irwan dengan tersenyum juga berbisik di telinga kiriku
“Iya kau rehat dulu Syai aku pun masih belum puas jugak, pantat kau boleh buat aku gila tau”
Aku menganguk aja, mereka mencuimi aku lalu aku pun tertidur dalam keadaan terlungkup dengan dahiku aku letakan di lipatan tanganku sendiri, Hendra dan Irwan memeluk aku di kiri dan kanan dengan kaki mereka masing masing di atas pantatku. Malam itu aku tersadar oleh gerakan Irwan dan Hendra yang sudah terjaga dari tidur, selesai memuaskan nafsu ku mereka sudah bersiap siaga untuk menduburi aku lagi. Hendra dan Irwan menduburi aku silih berganti dengan berbagai posisi yang mereka inginkan sampai ke tetesan air mani mereka yang terakhir, aku tak berapa ingat berapa kali mereka melepaskan air mani mereka ke dalam duburku malam itu, tapi yang pasti lebih dari 4 kali seorang. Karena aku sayangkan kedua kekasihku ini aku tidak keberatan melayani nafsu kuda mereka, Hendra dan Irwan lebih suka menduburi dari diduburi, tapi kalau aku sudah menginginkan mereka tidak keberatan untuk memberi aku kesempatan menduburi mereka. Hendra kadang menduburi Irwan dan Irwan pun begitu juga. Walaupun Hendra dan Irwan tampak seperti anak muda tampan yang “decent and innocent” tapi di sebaliknya itu tersirat 1001 rahasia, yaitu mereka ketagih sek dan mereka liar ketika diranjang…dan aku juga suka dengan lelaki yang liar begini. Kami tidur dengan aku ditengah pada malam itu, malam malam seterusnya kami bergantian tidur ditengah agar semua bisa merasakan kehangatan tubuh antara satu sama lain. Semenjak kejadian malam itu aku tidak lagi melihat cowok cowok ganteng lain baik di Universiti ataupun di mana mana, karena aku sudah ada Hendra dan Irwan, mereka berdua kekasih ku ini sudah cukup untuk memuaskan aku. Tapi aku juga harus memuaskan nafsu kuda mereka, tapi tak apalah karena aku sayang sekali kepada mereka dan aku banyak terhutang budi dan body pada mereka.
Hari berganti hari, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun, kami mengarungi perkuliahan kami bersama. Kami selalu memberi dukungan dan semangat antara satu sama lain. Kami selalu mengulang kaji dan menelaah pelajaran bersama. Hendra dan Irwan tidak berapa mahir dalam bahasa Inggris jadi aku yang banyak memberi penjelasan kepada mereka tapi kalau dalam soal matematika Irwan dan Hendra adalah jagoannya. Hendra juga banyak memperjelaskan Bahasa Indonesia kepadaku, ternyata walaupun sama tapi banyak perbedaannya.
Hendra dan Irwan suka mengembara, kalau ujung minggu atau libur panjang kami akan mengembara atau berkelana ke kota kota yang berdekatan. Aku sampai dibelikan sebuah motor juga oleh Hendra dan Irwan, mulanya aku menolak tapi atas bujukan mereka yang nanti sebelum pulang boleh di jual semula dan uangnya boleh di kembalikan aku pun setuju. Aku akhirnya setuju dengan cadangan mereka untuk membeli sebuah Ducati 916Super Sport berwarna kuning berumur 3 tahun dengan harga USD6000. Masih lumayan cantiknya. Masih aku ingat lagi ketika itu Hendra dan Irwan berbohong sunat kepada ayah mereka meminta dikirimkan USD3000 karena kononnya motor mereka masuk parit dan rusak berat, banyak spare partnya harus diganti. Dalam masa dua jam rekening uangnya sudah sampai, sore atau petang itu juga kami ke showroom motor untuk membelinya. Aku hampir jadi senewen asyik tersenyum sendiri aja sampai dua tiga hari berturut turut melihatkan motor keren ku, sampai sekarang fotonya masih aku simpan rapi dalam album istimewaku. Aku pernah mancoba Kelajuan maksimalnya boleh mencapai 320km/jam. Banyak kota yang kami telah lawati dan lewati seperti San Francisco, San Jose, San Diego, Santa Cruz, Sacramento dan malah ke Ensenada di Mexico pun kami pernah juga. Aku juga pernah ke rumah Hendra di Jogjakarta dan Irwan di Kuala Lumpur. Semua biaya di taja oleh Hendra dan Irwan, maklum aku tidak mampu. Selalunya aku akan menolak kalau di ajak mengembara bersama dengan berbagai alasan, tapi karena dua kekasihku ini memang pintar membujuk maka aku selalu mengikutkan aja. Mereka selalu bilang kalau aku tak ikut maka akan kurang seru atau seronoknya. Iya begitu lah kami selalu bertiga kalau kemana mana. Uang memang tidak menjadi persoalan.
Dalam keasyikan bersama, kami bertiga selalu mengingatkan bahwa hidup tak akan selamanya begini, apa yang bermula pasti akan berakhir dan begitu juga dengan kami. Aku selalu berasa sayu kalau memikirkan akan kenyataan yang kami harus berpisah pada satu hari nanti. Dua bulan sebelum kuliah berakhir kami telah berpesan untuk bersiap sedia menghadapi kenyataan yang pahit bahwa kami akan berpisah untuk selamanya. Karena tak inginkan saat di LA itu berakhir dengan begitu cepat kami sepakat untuk melanjutkan penginapan kami di LA untuk lagi sebulan, karena kami memang betul mengerti kalau saat ini sudah berlalu ia tak akan kembali lagi. Sebulan terakhir kami disana kami mengembara ke kota kota yang kami belum terlawati lagi. Seminggu sebelum pulang kami sudah menjual motor kami masing masing, motorku saat aku jual umurnya sudah 6 setengah tahun dan setelah aku tawar menawar dengan saudagar motor dekat dengan rumah Hendra dia setuju untuk membayarku USD3000 karena motor itu masih baik terawat walaupun umurnya sudah 6 setengah tahun .
Uang yang aku dapat aku serahkan kembali kepada Hendra dan Irwan. Tapi mereka menolak, disuruhnya aku simpan aja untuk buat modal aku bekerja nanti. Aku sungguh terharu sekali. Minggu terakhir kami di LA memang giliran kami menginap di rumah Irwan, tapi sebelum meninggalkan rumah Hendra aku tatap habis habisan rumahnya sebelum aku keluar, empat tahun di rumah Hendra semua penjuru dan sudut rumahnya sudah aku menghafalnya begitu juga rumah Irwan. Hari hari terakhir kami, kami menghabiskan waktu bersantai di ruang balkon rumah Irwan yang menghadap Lautan Pasifik karena pemandangannya di situ memang sangat indah. Boleh terlihat long beach, pelabuhan dan marina dan lautan yang luas terbentang. Yang terindah sekali sewaktu matahari terbenam, cukup romantis sekali suasananya. Kami bersantai bertiga sembari berpeluk pelukan tanpa rasa jenuh untuk kali kali terakhir, ML kami untuk minggu minggu terakhir pun semakin panas, ganas dan menggairahkan.
Aku masih ingat lagi tanggal 30 Juli 1999 hari Jumaat, tanggal yang kami tak mahu ia datang namun ia menjelma juga. Hari itu kami berangkat pulang dan meninggalkan LA untuk selamanya. Wajah wajah kami yang sayu tampak sungguh jelas sekali. Dari Bandara LA kita bertiga masih sama pesawat tapi akan bertransit di Bandara Narita di Jepang ataupun Jepun. Sewaktu penerbangan ke Narita kami duduk dibelakang karena tidak banyak orang jadi kami bisa berpeluk pelukan untuk saat saat terakhir. Di Bandara Narita detik yang sangat mengharukan sekali ialah saat ku lihat pintu masuk jalur penerbangan menuju Singapura sudah di buka. Dengan perasaan tak menentu aku mencoba tegar melangkah di ikuti Hendra dan Irwan di belakangku. Waktu itu penerbangan Hendra dan Irwan belum sampai waktu lagi. Dadaku terasa sesak dan nafasku terasa berat oleh kesedihan yang menghimpit perasaanku. Aku harus meninggalkan mereka berdua. Kami bertiga berpelukan dan menangis tersedu sedu sampai orang orang di sekeliling kami pun ikutan bersedih. Di depan pintu masuk aku berhenti sejenak, terdengar suara Hendra dan Irwan mengucapkan selamat tinggal kepadaku.

“Selamat tinggal Syaiful”
Airmata ku kini mengalir semakin deras. Aku tarik nafas panjang untuk meredakan tangisku, sebelum aku menoleh kepada mereka Kulihat airmata Hendra dan Irwan pun mengalir deras juga. Ku pandangi wajah mereka untuk terakhir kali. Terbayang kembali saat-saat indah yang telah mereka berikan padaku. Kukuatkan diri untuk melangkah.
“Selamat tinggal Hendra, Selamat tinggal Irwan aku cinta dan sayang kamu berdua semoga kita bertemu lagi” Ucapku dengan suara serak menahan tangis, dan dengan cepat aku berbalik sebelum air mata ini berterusan mengalir. Pukul setengah dua siang, pesawat tinggal landas. Ku bisikkan selamat tinggal pada semuanya. Kupejamkan mataku, ada yang menetes hangat dari sudutnya. Samar terdengar tawa Hendra dan Irwan saat kami bercanda. Teringat kembali kehangatan yang pernah aku rasakan dengan Hendra dan Irwan. Setelah pulang ke tanahair masing masing kami sering berhubungan melalui email karena pada waktu itu internet sudah menjadi global. Setiap hujung tahun kami akan mengambil cuti untuk berlibur bersama, destinasi kami selalu ke Eropah karena disana budayanya agak lebih terbuka maka kami lebih berleluasa bertiga bersama. Bila kami bersama kami pasti melakukan ML seperti waktu kami di LA dulu. Liburan begini kami teruskan sehingga kami bernikah, aku nikah duluan diikuti Hendra dan juga Irwan.
Setelah bernikah dan masing masing mempunyai anak kami menjadi tambah kerepotan dengan tugas kantor dan juga tanggungjawab rumah tangga, kami sudah tidak sering bertemu lagi seperti dahulu. Walaupun sudah 16 tahun peristiwa itu berlalu tapi seakan baru semalam saja keindahan itu aku rasakan. Belum puas aku menikmatinya. Kenangan masa lalu bersama Hendra dan Irwan selamanya tidak akan kulupakan. Karena mereka adalah masa mudaku.

16 Responses to “KENANGAN DI LOS ANGELES”

    abbi Says:

    aku nak kls 2 SLTA,bagi gay yang mencari PASANGAN BERKOMITMEN agar gak GANTI-GANTI PASANGAN hubungin gue…gue nyari yang serius yang bukan hanya sex belaka….tapi mikirin hati+perasaan,bersama mencoba setia walau sulit.
    089665767234
    087736789469
    HANYA U/ GAY YANG BERANI BERKOMITMEN
    (khususnya yg usia 27 keatas…)

    Well-loved. Like or Dislike: Thumb up 6 Thumb down 2

    mumuy Says:

    aq jg baru terjun ke dunia gay nih…
    plz hub aq dong utk ajari aq menyelami kenikmatan di dunia gay…
    Mumuy 0813 8514 4994 / 021 9339 3644
    aq tunggu yaaaaaa…. :nari:

    Like or Dislike: Thumb up 4 Thumb down 2

    Evan Says:

    Sungguh cerita yg myentuh, jd tharu, tp bukan krn pmainan sex kalian, namun karena romansa indah yg kalian alami, trutama ketika kalian bisa mgakhiriny dg indah, salut u Syaiful, Hendra dan Irwan.
    Kurang lebih aku jg mgalami spt kalian, walau tdk ‘seindah’ dan ‘semewah’ kalian. Namun aku brakhr dg kbencian, aku ingin fokus bkeluarga, namun pasanganku mnolak, rumit akhrny.
    Sdh lbh 10th, kupikir dg mnikah dan pnya anak, aku bs sembuh dr hasrat gay, namun trnyata tidak, skrg bathinku trus bgejolak. Aku ingin jd suami setia dan bapak yg baik, tp disisi lain hasrat gay ku slalu mgoda. Pesanku u adik2 yg msh remaja, sdg mjalani khdupan gay, bila kalian sdh yakin, maka jalanilah. Tapi kalau kalian ragu2, mulailah scr plahan u bhenti, jarang ada akhir bahagia utk pasangan gay

    Well-loved. Like or Dislike: Thumb up 10 Thumb down 1

    johan Says:

    aq nak gay, aq tingal dsurabaya. Hubungi aq 082139698628. Johan :nyanyi:

    Well-loved. Like or Dislike: Thumb up 4 Thumb down 0

    mumuy Says:

    aq jg baru terjun ke dunia gay nih…
    plz hub aq dong utk ajari aq menyelami kenikmatan di dunia gay…
    Mumuy 0813 8514 4994 / 021 9339 3644
    aq tunggu yaaaaaa…. :nari:

    aq juga siap berkomitmen sama siapapun dgn latar belakang kehidupan apapun,asalkan anda serius ! PLEASE CALL ME…

    Like or Dislike: Thumb up 1 Thumb down 0

    Andra Says:

    Ihhh sumpah terharu gwe.. ..!!

    W nax tasik
    087826117151

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 1

    Romy Says:

    Hei, gwa Romy 19th

    Khusus buat tante or Cewe yang pengen Phone sex

    Contac me ==>> 085755212574

    Like or Dislike: Thumb up 2 Thumb down 2

    Ayik endut Says:

    :nangis :mandi: keran banget mga aku dpet yg baik yha aku pengen banget ML but aku gendut 085642449744::

    Like or Dislike: Thumb up 3 Thumb down 1

    Kim Says:

    Cerita’a seru, terharu gue baca’a hiks hiks ;(

    08971046871

    Like or Dislike: Thumb up 1 Thumb down 0

    jalak Says:

    jadi pengin ngentot…… jalak_suren@rocketmail.com

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    jalak Says:

    jadi pengin ngentot…… jalak_suren@rocketmail.com :hi:

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    Syaflan kesumapuja Says:

    Walah2, seru Jg eh aq se krang yakin driku gay to bkn,tpi tiap mandang wjah2 yg rupawan htiku deg2,an apalagi apabla dkat htiku bgai kan copot dan tak bergerak,tpi gay kan dilarang oleh agama entr kena azb perti umat nabi luth, sumpah tpi aq pengen di entot walau aq jga aq msh suka ma cwek. . . ?

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    Syaflan kesumapuja Says:

    seru! Jg eh aq se g yakin driku gay to bkn,tpi tiap mandang wjah2 yg rupawan htiku deg2,an apalagi dkat htiku bgai kan copot n g bs bergerak,tpi gay kan dilarang oleh agma ntr kena azb perti umat nabi luth, sumpah tpi aq pngn di entot lau aq jga aq msh ska ma cwek. . . ?

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 1

    gokil.yudy@yahoo.com Says:

    khusus CEWEK yg mau ML/ngerasain kontol yg tahan lama
    SMS JA 087856673536 aq jamin u psti puas.
    BUKTIKAN AJA…!!!BURUAN DEH

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    viktorsaja Says:

    bagi yang ada di banjarmasin aku suka kontolmu untuk diisappppppppp (cowok)

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

    Hadi Says:

    Kayakmanasih dunia Gay itu
    Jadi penasaran
    GW pria umur 17 tahun
    tinggal di medan
    sms aja di
    087766068855

    Like or Dislike: Thumb up 0 Thumb down 0

Leave a Reply

:tembak: :teler: :suit: :senter: :rokok: :pingsan: :pening: :nyanyi: :ngupil: :ngamen: :nari: :nangis :muntah: :marah: :mandi: :hmmm: :hi: :hajar: :hai: :haha: :dor: :bye:

Updates: Kabar gembira, kini CeritaPanas mempunyai forum yang bekerjasama dengan JURAGAN.com, mari kita share dan berdiskusi ria di forum Juragan DEWAZA

Ratu Bola

Updates: Kabar gembira, kini CeritaPanas mempunyai forum yang bekerjasama dengan JURAGAN.com, mari kita share dan berdiskusi ria di forum Juragan DEWAZA