Kenangan yang tak terlupakan..
Aku masih belum bisa memejamkan mata meski badanku sudah sangat terasa lelah. Memang gak enak jadi orang miskin..! Kemana-mana harus naik bis. Berjubel seperti layaknya kambing.
Sepertinya, hari ini memang hari sialku. Di sekolah dimarahi Pak Amin, guru fisikaku karena ngelamun, jalanan macet, dan sampai kosan tidak ada air. Sedangkan kepalaku tak berhenti terngiang.
Kejadian itu tak mau hilang dari pikiranku. Entah apa yang terjadi, tapi kejadian itu seperti layar tancap permanen di kepalaku. Aku merasa.. entahlah. Aku tak tau rasa apa ini.
—— seminggu yang lalu ——
Aku masih menganggapnya bercanda sewaktu mereka menangkapku. Bam, Nugi, Harry dan Danni. Kami memang biasa bercanda melepas lelah selesai pelajaran sekolah di ruang loker. Telanjang dada, kami mengeringkan keringat. Jadi siswa STM mesin memang melelahkan..! Bahkan, ketika yang lain sudah pulang, kami masih saja terus ngobrol atau sekedar bercanda dan iseng.
Dan konyolnya, hanya karena aku tidak tahan geli diantara yang lain, akulah yang paling sering menjadi korban. Sering mereka membuatku seperti mau pingsan karena menggelitiki ku. Bercanda mereka berlebihan..!
Semua berawal ketika Bam cerita tentang adiknya yang harus sunat karena susah kencing. Entah bagaimana, cerita beralih tentang coli. Aku masih ingat ketika Nugi melemparkan pertanyaan, “Wah, kencing aja susah, gimana kalo coli ha ha ha..”
Harry menyambar, “Ya elah Nug, coli kan enak, ya bisa-bisa aja..”
“Eh, ngomong-ngomong, berapa sering lw pada coli?”, tiba-tiba Bam melemparkan pertanyaan aneh.
“Pertanyaan lw itu loh.. Kayak gak ada pertanyaan lain..”, sambar Danni kurang nyaman.
“Emang kenapa Dan? Lw gak pernah coli? Hahaha.. Kalo gw sih seminggu 3 sampe 4 kali lah.. Sesuai kebutuhan.. Kalo elo Bam?”, Nugi menjawab.
“Gw agak jarang.. paling 2 kali seminggu.. Kalo elo Ri?”, jawab Bam.
“Sama ama Nugi.. Sesuai kebutuhan hehe.. Kalo elo Dan..? Ayolah… masa gitu aja pake rahasia-rahasiaan..”, tanya Harry sambil mendorong pundak Danni.
Danni meringis dan menjawab pelan, “Hampir tiap hari gw..”.
“Gila lw.. pantesan aja lw kurus.. hahaha.. Kalo elo San..?”, tiba-tiba Bam menoleh padaku. Rupanya, dia masih ingat keberadaanku.
Aku cuma senyum mendengar pertanyaan Bam. Entah gw harus menjawab apa.
“Jangan-jangan lw belum pernah coli ya San..?”, tiba-tiba Harry mencecar. Aku cuma senyum dan berdiri berusaha menghindar. Tapi Nugi tiba-tiba menyambar dan menarik tanganku.
“Jawab donk.. Malah mau kabur..”.
“Iya.. Gak fair lw..”, Danni juga ikutan mendesakku.
Akhirnya kepalaku mengangguk, “Gw belum pernah..”.
“Alaaah, boong lw..”, Bam berdiri mendekatiku.
“Ya terserah, kalo gak percaya..”, aku berusaha melepaskan tanganku dan berusaha pergi.
Tapi Harry menghalangi jalanku. Bam juga ikutan.
“Kalo lw belum pernah, lw mesti nyoba.. Biar kita sama.. Iya gak guys?”
“Sip, gw setuju”, timpal Danni.
“Ah udah ah..”, ku dorong Harry agar memberi jalan. Tapi dia malah balik mendorongku. Dan tanpa bisa kuhindari, Danni dan Nugie menyambar lenganku. Aku berusaha meronta, tapi Danni dan Nugi malah makin kuat memegang tangan ku. Tinggal tersisa kaki, aku pun menendang. Tapi Bam dengan sigap menangkap kakiku. Mereka mengangkatku dan menelentangkanku ke lantai.
Bam menahan kakiku sedangkan Danni dan Nugi membuat kedua tanganku tak bisa bergerak. Aku hanya bisa meronta-ronta.
“Ayo Ri, lw buka celananya..!”, kata Bam sambil menahan kakiku yang terus meronta. Teriakanku sama sekali tak digubrisnya.
“Ah, gak mau.. Lw aja..”, jawab Harry.
“Ya elah, kan gw lagi megangin kaki..”,
“Udah, buruan Ri.. Tenaganya kuat juga neh..”, buru Danni.
Harry pun akhirnya mendekatiku dan membuka ikat pinggangku. Dia sedikit kesulitan karena aku terus meronta. Tapi tak lama, ikat pinggangku pun lepas. Aku mulai merasa geli. Aku paling gak bisa menahan geli. Biasanya, aku langsung lari tapi kali ini, aku cuma bisa meronta dan teriak.
Kini Harry sudah mulai membuka celanaku dan terus membuka reseliting celanaku.
“Udah Ri, tarik aja celananya..”, seru Bam. Hari cuma mengangguk sambil menarik celana ku.
Kini, tinggal celana dalam putih yang menutupi badanku.
“Buka CD nya Ri”, seru Danni. Tapi Harry agak ragu. Namun tak lama, ia pun menarik CD ku turun, hingga aku tak lagi ditutupi selembar benang pun. Aku terus meronta dan teriak, namun mereka tak peduli sama sekali.
Kontol ku terkulai tanpa ada yang menutupi, menyeruak diantara jembutku yang lebat yang tak pernah ku cukur. Sesaat, mereka terdiam dan menatap kontol ku. Mungkin ini pertama kalinya mereka melihat kontol orang lain, nyata didepan mata. Dan yang pasti, ini pertama kalinya kontol gw diliat orang sejak disunat.
“Ayo Ri, lw coliin..”, seru Bam tiba-tiba.
“Ah, nggak ah.. Lw aja.. Emang gw homo..!”
“Ya elah, Ri, buruan.. Kan lw juga yang bilang Sandi mesti ngerasain coli..”, sergah Nugi.
“Iya.. Gimana sih..”, timpal Danni.
Setelah ragu sejenak, jari Harry pun akhirnya menyentuh kulit kontolku yang masih lemas. Batang kontolku ia pegang dengan ibu jari dan telunjuk. Kontolku memang tidak besar saat lemas. Ia menggerakkan naik turun. Aku merasakan geli yang tak terkira. Bisa dibayangkan, telunjuk menyentuh kulit punggung saja aku sudah kegelian, sekarang jari Harry tepat berada di pusat rasa geli. Aku meronta hebat.
“Lama amat Ri, kok gak ngaceng-ngaceng?”, Bam mulai penasaran.
“Tau nih, masa sih gak ngaceng..”, jawab Harry sambil jemarinya terus naik turun di kontolku. Mungkin Harry penasaran, kini ia pun menggunakan tangan kirinya untuk meraba buah pelerku. Aku makin merasa geli. Makin tak sabar, tangan kiri Harry kini bergerak liar diantara jembutku yang lebat juga perut dan pusarku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda.
“Hahaha.. Ngaceng juga dia.. Hahaha”, tiba-tiba Nugie tertawa terbahak.
“Iya Ri.. Terus Ri..”, Danni menyemangati.
Aku merasa kontolku menegang. Dan kini, Harry membutuhkan semua jarinya untuk menggenggam kontolku.
“Wah, ternyata, kontol lw gede juga San..”, seru Bam. Harry kini malah nampak serius meremas-remas kontolku dan menggerakkannya naik turun. Sebenarnya kontolku tak besar-besar amat. Sekilas kulihat, genggaman tangan Harry meremas batang kontolku menyisakan kepala kontol yang besar dan merah.
“Kontolnya Sandi kayak jamur.. Gede di kepalanya.. hehehe”, komentar Danni.
“Emang kalo kontol lw gimana Dan?”, tanya Nugi.
“Kepalanya sama ama batangnya..”
“Ah..”, tiba-tiba bibirku mengeluarkan desahan. Entahlah. Aku merasakan hal yang tak jelas. Antara marah, jengkel, geli dan nikmat. Mendangar desahanku, Harry makin liar. Terlihat, Harry makin tak sabar karena aku belum juga nge-crot. Bam cuma senyum-senyum sedangkan Danni tak berkedip.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berbeda, ada rasa basah dan sentuhan lembut di kepala kontolku. Dan tanpa sadar, aku mendesah keras.
“Aaah..!”
“Wah, gila lw Ri..”, Bam cuma bisa bengong melihat Harry. Aku penasaran dan kulihat kepala Harry kini berada di selangkanganku. Lidahnya dengan liar bermain-main di kepala kontolku yang makin memerah. Tanpa sadar, aku menggerakkan pinggulku mengikuti gerakan lidah Harry. Kakiku mulai menegang. Aku merasakan sensasi aneh yang belum pernah kurasakan.
Tiba-tiba Harry memberi kejutan lagi, aku merasakan kontolku seperti diremas-remas oleh sesuatu yang lembut dan basah. Kepala dan batang kontolku seluruhnya seperti terhimpit sesuatu yang lembut dan basah.
Saat ku lihat, seluruh batang kontolku hilang ditelan mulut Harry hingga hidungnya menyentuh jembutku. Rasa geli kini telah hilang berganti rasa nikmat. Ku gerakkan pinggulku kearah mulut Harry hingga kurasakan bibirnya menyentuh kulit dan jembutku dan kutarik mundur. Pelan tapi pasti, pinggulku pun bergerak naik turun mengikuti gerakan kepala Harry. Kupejamkan mataku karena aku tak tahan merasakan sensasinya.
Saat ku buka mata, kulihat Danni tak lagi memegangi tanganku digantikan oleh tangan kiri Nugi. Dia berdiri disebelahku yang terlentang bergelinjang. Tiba-tiba dia membuka ikat pinggang dan juga celananya. Bam dan Nugi cuma bisa bengong melihat aksi Danni dan Harry. Tubuh Danni yang tinggi dan agak kurus kini hanya berbalut celana dalam abu-abu. Tak berapa lama, celana dalam itu pun juga tergeletak dilantai hingga nampak didepanku tubuh putih Danni yang telanjang bulat. Ternyata, kontolnya pun sudah berdiri tegak. Jauh lebih besar dari punyaku. Mungkin 3 centi lebih panjang. Jembutnya pun sama lebatnya. Rupanya, dia tidak tahan melihat aksi Harry yang nekat dan liar.
“Lw mau ngapain Dan..?”, Bam cuma bisa bengong.
Danni tak menjawab, dia malah menunduk dan kepalanya menyerbu dadaku. Bibirnya jatuh tepat di pentilku. Dia benar-benar maniak..! Dengan liarnya, dia membuat seluruh dadaku basah oleh liurnya. Aku makin merasakan nikmat yang luar biasa dari berbagai penjuru. Kurasakan buah pelerku pun basah yang ternyata Harry juga melahap buah pelerku yang juga ditumbuhi jembut tipis. Aku menggelinjang.
Tiba-tiba Danni berhenti dan melangkahkan kakinya mengangkangi dadaku. Tepat didepanku, kontol besarnya seperti meriam yang hendak membombardirku. Ia bergerak maju. Nugi jadi sedikit bingung memgangi dua tanganku. Tiba-tiba, kontol Danni sudah berada dimulutku saat aku melolong nikmat ketika buah pelerku dilumat oleh Harry.
Sesaat aku merasakan sesuatu yang asin dan aroma pesing yang khas. Danni terus merangsak maju memaksaku untuk membuka mulut lebih lebar. Aku memang sedang jengkel, tapi aku juga tak akan menggigit barang paling berharga milik sobat ku ini. Kontolnya merangsak masuk hingga kepalanya menyentuh dinding rongga mulutku. Ternyata, itu baru sepertiga dari batang kontolnya. Kurasakan sesuatu yang lembut sekaligus keras di lidahku. Tiba-tiba kontolnya mundur keluar, tapi tak lama karena sesaat kemudian kontol besar itu kembali merangsak masuk hingga ke tenggorokan membuatku tersedak dan ingin muntah. Namun sekali lagi kontol Danni keluar lagi, dan sesaat kembali menyerbu masuk.
Kurasakan kontol itu berdenyut-denyut cepat dan keras. Disaat yang sama, mulut hari melumat habis kontolku tak bersisa dan bergerak maju mundur. Seluruh tubuhku menegang. Jari-jari kakiku lurus menegang. Tubuhku bergerak tak terkontrol kekanan dan kekiri. Aku seperti disengat listrik ribuan volt. Kontolku mengeras dan berdenyut. Bisa kurasakan kepala kontolku membasar dan jadi terasa penuh di dalam rongga mulut Harry.
Aku tak bisa mendesah karena mulutku pun sedang dijejali kontol Danni yang besar meski kepalanya tak begitu besar.
Aku cuma bisa bersuara tak jelas bersama gerakan tubuh yang makin tak terkontrol. Dan tiba-tiba, sengatan listrik itu telah menguasai tubuhku. Sensasi nikmat yang luar biasa menjalar cepat dari seluruh tubuh ke arah ujung kontolku dan..
Croooot.. Crooot.. Croooot.. Aku ngecrot hingga 7 kali..! Harry pun tersedak.. Dan disaat yang hampir bersamaan, tiba-tiba sesuatu meluncur deras ke tenggorokanku tepat disaat Danni mendorong maju kontolnya hingga jauh kedalam tenggorokanku. Aku juga tersedak dan kurasakan rasa asin dan aroma pandan menyeruak di mulutku. Sesuatu seperti lendir memenuhi mulutku. Dan tak lama, kontol Danni pun lemas dan keluar dari mulutku.
Tubuhku pun terasa lemas. Sedangkan Harry sudah di kamar mandi memuntahkan maniku yang memenuhi mulutnya. Karena lemas, aku tak mampu lagi mengeluarkan mani Danni yang berlimpah dimulutku dan tanpa sadar ku telan habis. Bersisa lendir putih pekat di pojok bibirku. Bam dan Nugi cuma bisa terdiam dan bengong.
——- ++++ ————
Nguuuk nguuuk… Nguuuuk nguuuuk.. Suara HP yang ku silent membangunkanku dari lamunan. Memori yang membuatku merasakan sesuatu yang tak dapat ku jelaskan. Sesuatu yang membuatku gelisah.
Ku ambil HP ku dan kuangkat..
“Halo..”
“Hei San..”, ku dengar suara Harry di telepon.
“Eh, ya Ri.. Ada apa Ri..?”, aku langsung duduk di tempat tidur. Tiba-tiba lelahku hilang dan perasaan gelisah juga lenyap. Ada apa ini? Kenapa aku merasa senang mendengar suara orang yang telah “menodaiku”? Setelah sekian lama Harry tak menelponku sejak kejadian itu, suara Harry terdengar merdu di telingaku. Ada apa ini?
…..
by iansumbara






Berlangganan Cerita
Peringatan Admin
pantek mak kau HOMO….kulum KONTOL bak kau tu..
Like or Dislike:
0
0
dasar homo, kontol and burit untuk u!
Like or Dislike:
0
0
babi kalian homo di baca pula
Like or Dislike:
0
0
Homo anjing
Like or Dislike:
0
0