Lucky Man
Sehabis kerja di akhir pekan, aku langsung menuju ke rumahnya. Terus kami nonton film di bioskop Dieng Plaza. Sesudah film berjalan 20 menit, tanganku mulai menggerayangi pahanya yang mulus. Lalu jariku menuju ke selangkangannya. Terus kugerakkan lebih ke bawah, menuju lubang senggamanya. Kugosok-gosok kemaluannya sampai basah. Terus kunaik lagi ke atas, menuju klitorisnya. Begitu sampai, langsung kugosok naik turun. Pertamanya sih klit-nya kecil, tapi lama-lama membesar dan muncul benjolan kecil yang kalau digosok bisa buat menggeliat. Matanya memejam dan merebahkan wajahnya ke dadaku. Pinggulnya digoyang ke depan dan ke belakang.
Aku sering bilang, “Jangan bergerak dong Say, nanti orang lain curiga…”
Dia menurut, tetapi hanya sebentar. Tidak lama dia goyang lagi. Kalau lagi keenakan, dia sering lupa tugasnya, yaitu mengocok senjataku. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak pernah ejakulasi di dalam bioskop. Satu-satunya yang bisa membuatku ejakulasi ialah memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya.
Setelah beberapa menit (mungkin 5 sampai 10 menit), dia menunjukkan gelaja mendekati orgasme. Dia merintih-rintih seperti mau menangis. Kalau sudah begitu, langsung saja mulutnya kututup dengan telapak tangan yang satu lagi. Aku terus menggosok klitorisnya. Makin cepat, makin cepat. Rintihannya semakin kencang. Tiba-tiba dia menggigit lengan atasku. Pahanya dirapatkan, sehingga tanganku terjepit. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya. Setelah itu (sekitar 30 detik dari orgasme), dia menyuruhku menarik tanganku keluar.
“Say.., udah ya..?”
Begitu keluar, whuaaa.., aroma khas kewanitaannya menjalar kemana-mana. Kusuguhi jariku ke hidungnya. Dia hanya cium sebentar, tapi terus langsung menghindar. Aku jadi ingin jahil, nih. Kutempelkan tanganku ke mulutnya dengan dua tangan. Jadi mau tidak mau, dia harus menghirupnya, lalu dia jadi kelojotan. Tangannya memukul-mukul pahaku.
“Idih.., kamu nakal dech..!”
Wah, pokoknya kalau ada yang melihat, pasti menyangka aku mau memperkosanya di dalam bioskop. Karena dia meronta keras, akhirnya lepas juga deh tanganku. Cepat-cepat dia mengambil tissue basah, lalu mengelap jariku satu persatu. Aroma wangi menyebar mengusir bau ikan busuk sialan itu.
Setelah film selesai dan lampu dinyalakan, aku menunduk pura-pura membetulkan tali sepatu. Sengaja aku dan dia keluar belakangan. Dari situ kami ke WC wanita. Aku menunggu dia di luar. Setelah itu kuantar pulang dia ke rumahnya. Setelah itu aku langsung pulang ke rumah. Tetapi dalam perjalanan, HP-ku berbunyi. Ternyata teman-temanku mengajak ke pub. Aku langsung berbalik arah, menuju ke pub yang ditunjuk temanku.
Sampai disana, teman-temanku sudah tiba lebih dulu rupanya. Setelah itu kami masuk ke dalam. Selama disitu, aku hanya minum soft drink saja, jadi otakku masih segar dan normal, sedangkan teman-teman yang lain penuh dengan alkohol.
Selama aku duduk disitu, aku melihat ada cewek bule yang cukup menarik, mendekatiku dan mengajak joget, aku sih oke-oke saja. Kami joget dari yang hot sampai yang soft. Dia sudah terlihat agak mabuk karena dari tadi kulihat dia minum wine cukup banyak. Waktu lagu yang diputar cocok untuk slow dance, dia memegang dan merangkulku untuk slow dance, aku awalnya agak kikuk juga karena tidak menyangka akan dipeluk oleh dia. Waktu kutanya, namanya Sandra. Dia ternyata bisa bahasa Indonesia dengan lancar untuk kategori orang bule.
Sandra memakai celana panjang putih yang agak tipis dan celana dalamnya sering terlihat membekas dari belakang maupun dari depan. Aku perhatikan celana dalamnya selalu yang berbentuk g-string, sampai belahan pantatnya selalu terlihat samar-samar dan tali celana dalamnya terjepit di antara belahan pantatnya. Dari depan sangat terlihat garis celana dalamnya dan aku tidak melihat gunung yang besar. Dalam bayanganku, pasti bulu kemaluannya tidak tebal. Gundukan buah dadanya sangat jelas terlihat. Sandra termasuk kecil untuk ukuran orang bule, kira-kira tingginya 165 dan badannya juga termasuk kecil.
Pelukan Sandra terasa cukup kuat dan benjolan di dadanya terasa menekan dadaku, rupanya buah dada Sandra cukup padat dan keras. Aku tidak merasakan BH yang menutupi buah dada Sandra. Kami berbicara hal-hal yang biasa saja, tidak pernah menyentuh tentang seks.
Terasa tangan Sandra mengusap-ngusap punggungku dan kami berdansa dengan sangat intim, kepalanya disandarkan di pundakku dan bau parfumnya sangat menggoda. Aku merangkul dia dan hanya merangkul saja tidak berani bertindak lebih jauh lagi. Kami berdansa beberapa lagu dan aku merasakan pelukan Sandra menjadi lebih keras, tangannya turun ke pinggangku dan menarik badanku agar lebih dekat ke badannya. Celana jeans yang kupakai tidak dapat menahan dorongan dari “Si Otong” di dalam. Dan tanpa terasa, sudah mulai membesar dan ini membuat kondisinya sangat tidak nyaman, karena “Si Otong” tertekuk ke bawah. Aku bisa merasakan “Si Otong” menekan kemaluan Sandra, dan ini yang membuat dia lebih menekan ke dalam lagi.
Sandra pasti merasakan bahwa batang kejantananku sudah mulai menegang dan dia melihat ke arahku sambil tersenyum nakal.
Aku mulai memberanikan diri sambil berkata, “Lihat, apa yang kau lakukan, Sayang..?”
Dia dengan polos sambil tersenyum berkata, “Apa yang yang kuperbuat? Aku tidak berbuat yang buruk kepadamu kan..?”
Lalu kubilang, “Saya tidak bilang buruk, mengapa kamu berpikiran seperti itu..?”
Dia hanya tersenyum saja. Terus kubilang, “Saya yakin kamu pasti merasakan akibat yang kau lakukan.”
Sandra tersenyum dan bilang, “Saya menikmatinya dan apakah saya harus lebih keras menekannya..?”
Kubilang, “Seharusnya sayalah yang menekan lebih keras ke kamu.”
Kemudian dia berbisik ke telingaku sambil bilang, “Maukah kamu menekan lebih keras dan lebih dalam lagi..?”
“Siapa takuuttt… Where and how..?” kataku.
Dia hanya tersenyum dan bilang, “Ayo kita keluar dan pamitan sama yang lainnya.”
Kami kemudian pamitan dengan teman-teman lainnya dan pergi keluar.
Kutanya ke Sandra, “Kita mau kemana sekarang, Sayang..?”
“Bagaimana kalau ke hotelku saja..?” kata Sandra.
Aku hanya bisa bilang, “My pleasure, darling.” sambil merangkulnya.
Jarak dari pub ke hotelnya hanya sekitar 5 menit jalan dan waktu itu jam sudah kira-kira jam 12:30 malam, angin cukup kencang dan dingin sekali. Aku memakai jaket dan Sandra hanya memakai sweater saja.
Kutanya apa dia merasa dingin, jawabnya, “Walupun diluar saya kedinginan, tapi hangat rasanya di dalam, dan saya yakin akan lebih hangat lagi nantinya, dan kamu pasti juga begitu.”
Omongan kami menjurus ke arah seks dan ini membuatku tambah terangsang saja.
Sampai di hotel, kami langsung masuk ke kamar, dan kulihat kamarnya cukup rapih dan teratur, baunya juga seharum yang punya. Kubilang kepada Sandra kalau aku mau ke WC dulu. Waktu selesai, kulihat Sandra sudah tiduran di tempat tidur dengan baju yang masih lengkap. Lalu dia menawarkan minum dan aku menolak.
Kubilang, “Saya sudah cukup banyak minim di pub tadi, silakan kalau kamu mau minum lagi.”
Aku mendekatinya dan berdiri di depan ranjang itu, Sandra terus mendekatiku. Lalu sambil tiduran dia memegang reitsleting celanaku dan mulai meraba-raba dari luar, saat itu kemaluanku sudah mulai kecil, tapi rabaan Sandra membuat batang kejantananku menjadi mengeras lagi.
Sandra menarik reitsleting celanaku dengan mudah, karena aku tidak memakai ikat pinggang dan t-shirt tidak kumasukkan ke dalam, celanaku diturunkan ke bawah oleh dia dan batang keperkasaanku terasa sedikit bebas, tapi masih tertekuk ke bawah. Tangannya masuk ke dalam CD-ku dan mulai menarik rudalku ke atas. Batangku terasa sangat keras, dan terlihatlah cairan di ujung senjata kemaluanku dan sangat terasa basah. Sandra pindah posisi, dan sekarang dia duduk di ujung tempat tidur tepat di depan rudalku. Dia melihat ke arahku dan kemudian mengeluarkan lidahnya sambil menjilat ujung batang kejantananku.
Aku merasakan geli dan enak, dengan mendadak dia memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam mulutnya, bibir dan mulutnya cukup kecil. Terasa batang kejantananku menyentuh tenggorokan dia dan masih terus dia tekan. Tenggorokan dia mengecil dan sangat terasa di ujung kemaluanku. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku. Semua burungku ditelan oleh Sandra, lidahnya menjilat bagian bawah kejantananku dan bibirnya dibesar-kecilkan. Burungku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokan dia. Persis seperti lagi dimasukkan ke dalam liang senggama saja, hanya bedanya kalau ini ada tulang yang mengeras di ujung tenggorokan.
Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan sambil tangan yang satu memeras biji kembarku dan tangan yang satu lagi dimasukkan ke dalam lubang pantatku, terasa aku sudah mau keluar.
Kubilang sama dia, “Saya mau keluar, darling..”
Dia keluarkan rudal panjangku dan bilang, “Go on come in my mouth. I want to taste and drink your cum.”
Batang kemaluanku dimasukkan lagi dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi. Setelah beberapa kali keluar masuk, spermaku keluar di dalam mulut Sandra, dan langsung ke dalam tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk. Aku benar-benar merasakan enak yang sulit dikatakan. Baru sekali ini aku dimasuki dan jari di pantatku. Sperma terakhir dari burungku ditelan oleh Sandra, dan aku tidak melihat satu tetes pun keluar dari bibirnya. Yang aneh dia tidak terlihat tersendak karena kejantananku dan spermaku. Perlahan-lahan dia keluarkan kemaluanku dan mengulumnya dengan bibirnya.
“Kamu suka dengan apa yang kulakukan kepadamu, Darling?”
Kubilang, “Sejujurnya saya belum pernah mengalami perasaan nikmat seperti ini sebelumnya, you really did a good blow job and I loved it. Thank
Berlangganan Cerita
Peringatan Admin