Nilai Sebuah Keperawanan

Amsterdam, 8 November 2000
Ahhh…, saya menjatuhkan tubuh saya di sofa baru di apartmen yang berlokasi di pusat kota Amsterdam. Jam menunjukkan pukul 17.00, dari jendela saya memperhatikan pohon yang di tumbuh di depan apartemen, di tepi kanal yang banyak dilalui turis asing. Terlihat hanya sehelai daun yang masih tersisa di batang pohon tersebut yang menandakan musim dingin telah tiba.

Dengan perasaan malas saya bangun dan menyalakan radio. Dari channel Sky Radio (Radio terbaik di negeri Kincir Angin) terdengar lagu “I turn to you” dari Melanie C. Karena lapar, saya mencari snack di dapur dan saya menemukan potato chips kesukaan saya.

Sambil mengunyah chips tersebut, melanjutkan lamunan saya dengan memperhatikan lalu lalang perahu di kanal depan. Sedang asyik-asyiknya melamun dari radio terdengar lagu, “All my bags are pack, I am ready to go, I’m standing here outside your door, I hate to wake you up to say goodbye. But the dawn is breaking, it’s early morning. The taxi’s waiting, he’s blowing his horn, Already I’m so lonesome I could cry. So kiss me and smile for me, Tell me that you’ll wait for me hold me like you’ll never let me go. ‘Cause i’m leavin’ on a jet plane, Don’t know when I’ll be back again. Oh, babe, I hate to go. There’s so many time I’ve let you down, So many times I’ve played around. I tell you now, they don’t mean a thing”

Lagu dari John Denver yang berjudul Leaving on the Jet Plane membuat mata saya berkaca-kaca dan bibir saya terasa kelu, dengan tatapan hampa pikiran saya melayang jauh.

Jakarta, Mei 1999
Dengan lunglai saya meletakkan HP saya di meja. Saya baru saja menerima telepon dari pacar saya yang bernama Yenny. Dia akan datang minggu depan! Biasanya saya akan berbahagia sekali kalau dia datang. Tetapi kali ini berbeda, semuanya sudah berubah.

Krisis ekonomi menghancurkan masa depan saya. Di awal tahun 1997, saya bermain saham yang memberikan keuntungan luar biasa. Dengan modal sekitar 200 juta dan pinjaman dari bank (margin trading) sekitar 400 juta, saya bisa mendapatkan sekitar 20 juta perbulan. Semuanya terasa indah, saat itu makan di hotel berbintang terbaik di Jakarta dan nongkrong di mana saja bukanlah masalah bagi saya.

Ketika harga saham terpuruk karena krisis, kemewahan yang saya nikmati berakhir. Dengan nilai saham uang terpuruk hingga 10%, bisa dibayangkan kerugian yang saya alami. Saya memerlukan sekitar 15 juta perbulan hanya untuk membayar bunga pinjaman tersebut. Akhirnya saya menjual rumah dan mobil saya untuk menutup kerugian tersebut. Semua jerih payah dan tabungan saya sejak tahun 1995 habis tanpa sisa.

Hidup saya hanya mengandalkan gaji dari pekerjaan saya yang tidak terlalu besar. Tetapi minggu lalu saya menerima kabar bahwa bank tempat saya bekerja termasuk salah satu bank yang akan dilikuidasi. Dunia terasa begitu gelap dan kejam.

Dengan kondisi tersebut bagaimana saya mempunyai muka untuk bertemu Yenny? Sebagai informasi saat itu saya berumur 26 tahun dan Yenny berumur 23 tahun. Kita sudah pacaran sekitar 3 tahun. Saya bekerja di Jakarta dan Yenny yang lulusan diploma Australia membantu papanya di Medan. Mereka adalah keluarga yang cukup terkemuka di kota Medan. Sebelumnya saya merasa minder dengan kondisi saya, apalagi sekarang saat saya sudah tidak mempunyai apa-apa lagi.

Saya ingat kalau kita jadian di tahun 1996 dan sehari sebelum keberangkatan saya ke Jakarta, kita bernyanyi berdua di karaoke di kota Medan. Kita mengulang lagu Leaving on the Jet Plane berkali-kali. Saya bilang kepadanya: “Every place I go, I’ll think of you Every song i sing, i’ll sing for you when I come back, I’ll bring your wedding ring….”

Saat itu saya berjanji kepadanya bahwa saya akan setia, akan membangun karir dan tiba saatnya saya akan meminangnya.

Akhirnya di hari Jumat, Yenny tiba di Jakarta. Dengan mobil pinjaman, saya menjemput dia di bandara Soekarno Hatta. Dia terlihat begitu anggun saat keluar dari bandara. Dengan jeans warna hitam dan kaos ketat berwarna biru tua, dia terlihat sangat cantik. Tinggi badan Yenny sekitar 170 cm dengan berat 55 kg, sangat proporsional. Saya sendiri setinggi 175 cm dan berat 65 kg. Sering dia bercanda bahwa dia tidak bisa memakai sepatu hak tinggi karena akan lebih tinggi dari saya.

Saya mengantarkan dia ke rumah kakeknya di kompleks Pantai Mutiara. Berhubung di rumah kakeknya sedang ramai, saya cuma duduk sebentar kemudian saya pamit. Sebelumnya kita sudah janjian bahwa besoknya kita akan ke Bandung. Saya sendiri kuliah di Bandung, jadi sudah mengenal kota Bandung dengan segala seluk-beluknya.

Hari Sabtu pagi, jam 10 pagi saya sudah nongol di rumah kakek Yenny. Setelah basa-basi, berangkatlah kita menuju kota Bandung. Pagi itu Yenny memakai jeans berwarna biru dan kaos ketat berwarna putih. Cetakan buah dadanya begitu menantang, memang Yenny dikarunia buah dada yang montok, sekitar 34C. Tetapi saya sendiri lagi murung. Saya sedang memikirkan bagaimana caranya untuk menceritakan kondisi saya pada Yenny.

Perjalanan ke Bandung memakan waktu sekitar 3 jam, dalam perjalanan Yenny bercerita bahwa papanya sudah menginginkannya untuk married dan dia menanyakan rencana saya. Saya cuma terdiam, tanpa apa-apa bisakah saya married? Tetapi untuk mengaku, bibir saya terasa berat.

Sekitar jam 2 siang, kita check in di hotel Chedi yang berlokasi di Jalan Cimbuleuit (melewati kampus Unpar). Bagi yang tahu hotel ini pasti sependapat dengan saya kalau saya bilang ini merupakan salah satu hotel yang paling romantis di Indonesia, betul khan? Kita hanya memesan satu kamar, sebelumnya memang kami sering tidur sekamar. Cuma sampai saat ini kita belum pernah berhubungan seks, cuma saling berciuman dan saling meremas apa saja yang bisa diremas. Saya berasal dari keluarga yang cukup kolot, dan walaupun sering bertualang saya mengharapkan keperawanan di malam pernikahan saya (egois ya?).

Siang itu kita jalan-jalan ke Cihampelas dan BIP. Malam jam 10 saya mengarahkan mobil saya menuju Calista yang berlokasi di Dago Atas. Setelah melalui jalanan yang gelap dan melewati kompleks perumahan, tibalah kita di caf

Leave a Reply

:tembak: :teler: :suit: :senter: :rokok: :pingsan: :pening: :nyanyi: :ngupil: :ngamen: :nari: :nangis :muntah: :marah: :mandi: :hmmm: :hi: :hajar: :hai: :haha: :dor: :bye:

Updates: Kabar gembira, kini CeritaPanas mempunyai forum yang bekerjasama dengan JURAGAN.com, mari kita share dan berdiskusi ria di forum Juragan DEWAZA

Ratu Bola

Updates: Kabar gembira, kini CeritaPanas mempunyai forum yang bekerjasama dengan JURAGAN.com, mari kita share dan berdiskusi ria di forum Juragan DEWAZA